Gubernur Lampung Dorong Gabah Diserap Penggilingan Lokal

CAHYAMEDIA (BANDARLAMPUNG) — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong agar produksi gabah dan beras di Lampung dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat daerah.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga pangan, khususnya komoditas beras yang saat ini menjadi salah satu penyumbang kenaikan inflasi di Lampung.

Hal itu disampaikan Gubernur Mirza usai mengikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog, Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) dan sejumlah pihak terkait, Kamis (3/9/2026).

“Tadi habis rapat rakor inflasi dengan BI, BPS, Bulog dan lain-lain. Kita menyikapi inflasi yang sudah mulai tinggi, terutama terbesarnya adalah beras dan ayam ras,” ungkap Mirza.

Menurutnya, pengendalian harga pangan harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand).

Saat ini, kata Gubernur Mirza sudah ada Pergub Lampung Nomor 7 Tahun 2026 tentang Perubahan Atas Pergub Lampung Nomor 71 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Distribusi Gabah yang melarang gabah keluar Lampung.

Untuk itu, Pemprov Lampung akan mendorong penguatan produksi dan distribusi pangan di daerah agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari hasil produksi Lampung.

Mirza menilai salah satu persoalan yang membuat harga beras di Lampung tinggi adalah adanya gabah produksi Lampung yang justru dibawa ke Pulau Jawa untuk diproses.

Setelah menjadi beras, produk tersebut kemudian kembali masuk ke Lampung. Kondisi ini dinilai membuat rantai distribusi menjadi lebih panjang dan berpotensi meningkatkan harga di tingkat konsumen.

“Kita ingin tidak apa-apa harga gabahnya bagus, yang penting berasnya itu dari Lampung. Masalahnya kenapa harga beras di Lampung mahal? Gabah di Lampung diproduksi, dibawa ke Jawa. Dari Jawa dibeli pedagang beras dari Lampung lagi, akhirnya harganya tinggi,” jelasnya.

Karena itu, Mirza mendorong agar gabah hasil produksi petani Lampung dapat lebih banyak diserap dan digiling oleh penggilingan yang berada di dalam daerah.

Dengan begitu, hasil produksi tidak langsung keluar daerah, tetapi terlebih dahulu diproses menjadi beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Lampung.

“Kita sarankan bagaimana memprioritaskan untuk penggilingan-penggilingan di Lampung supaya masyarakat Lampung tidak terlalu jauh beli beras dari Jawa,” sarannya.

Mirza menegaskan, penguatan produksi dan penggilingan beras di Lampung menjadi salah satu upaya pemerintah daerah menjaga ketersediaan pangan sekaligus menekan tekanan harga di masyarakat.

“Lebih ke produksi beras di sini supaya harganya tidak tinggi. Daripada pedagang beras sekarang banyak beli dari Jawa karena di sini tidak ada beras,” terangnya. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *