Gubernur Lampung Mirza Turun ke Kebun Sayur Lampung Barat

Pastikan Pasokan MBG dari Desa

Lampung, Pemerintahan103 Dilihat

CAHYAMEDIA (BANDARLAMPUNG) — Langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal terhenti di tengah hamparan kebun sayur di Pekon Tanjung Raya, Kecamatan Sukau, Lampung Barat.

Di hadapannya, daun kol tampak segar, terong menggantung matang di batang, dan cabai memerah di sela tanah yang subur.

Di tempat inilah, Gubernur ingin memastikan satu hal penting, bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar tersedia dari desa-desa Lampung.

Dengan sepatu lapangan dan topi sederhana, pria yang memiliki sapaan Mirza ini turun langsung menyusuri kebun, menyapa petani, sekaligus menanyakan proses tanam hingga panen.

Sesekali ia berjongkok, memeriksa kondisi tanah, dan mendengarkan cerita petani tentang tantangan residu pestisida yang masih menjadi hambatan sayuran lokal masuk ke rantai pasok MBG.

“Program MBG ini harus memberi manfaat ganda. Anak-anak kita sehat karena makan bergizi, petani kita juga sejahtera karena hasil panennya terserap,” ungkap Gubernur Mirza di Bandarlampung, Jumat (26/12/2025).

Hampir sepekan pada minggu lalu Mirza berkeliling ke sejumlah wilayah penghasil sayur dan bahan makanan di Lampung. Termasuk saat dia menyambangi Kampung Nuar Maju, Kecamatan Buay Bahuga, Kabupaten Way Kanan.

Di kampung ini, Mirza mendengar keluhan soal jembatan putus, jalan rusak, hingga kualitas lahan pertanian yang menurun akibat pengolahan intensif.

Bagi Mirza, persoalan pertanian tidak bisa dipisahkan dari infrastruktur dan tata niaga.

“Kalau petani sudah produksi, jalannya harus ada, pasarnya harus dijaga, dan harganya harus dilindungi,” katanya.

Di Way Kanan, dia juga meninjau fasilitas pengering padi, BUMDes, dan implementasi desa digital. Ia menekankan pentingnya hilirisasi, agar hasil pertanian tidak hanya dijual mentah.

“Kita harus ubah pola pikir dari jual gabah menjadi jual beras. Nilai tambahnya harus dinikmati masyarakat di sini,” jelasnya.

Langkah hilirisasi itu juga akan menopang keberlanjutan program MBG. Dengan pengolahan pasca-panen yang baik, pasokan pangan bergizi, baik beras maupun sayur-mayur, dapat terjaga dari desa ke sekolah-sekolah.

Di Lampung Barat, perhatian Gubernur tertuju pada fluktuasi harga sayur saat panen raya. Ia menilai tanpa proteksi pasar, petani akan terus dirugikan.

“Selama petani Lampung Barat panen, pasar di Lampung harus menyerap dari sini dulu. Jangan sampai barang luar masuk dan harga petani kita jatuh,” ujarnya. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *