Gubernur Mirza Beri Solusi Stabilitas Harga Gabah

Dialog Bareng Petani Pringsewu

CAHYAMEDIA (PRINGSEWU) — Bantuan alat pengering gabah dan jagung (Dryer Rice Milling Unit/DRMU) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menjadi angin segar bagi sektor pertanian di Kabupaten Pringsewu.

Selain memangkas waktu pengeringan, teknologi pascapanen ini terbukti efektif mendongkrak produktivitas serta menjaga mutu beras hasil panen petani.

Di sisi lain, keberadaan fasilitas penunjang ini disambut positif oleh Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Lampung.

Pihaknya berharap peningkatan produksi ini diimbangi dengan stabilitas harga gabah dan optimasi penyerapan di tingkat pasar.

Pengurus Perpadi Lampung, Sabar, menegaskan komitmen pengusaha penggilingan dalam mendukung program swasembada pangan pemerintah.

Menurutnya, penggilingan lokal terus berupaya menyerap hasil panen masyarakat meski menghadapi tantangan fluktuasi harga.

Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Lampung.

Pihaknya berharap peningkatan produksi ini diimbangi dengan stabilitas harga gabah dan optimasi penyerapan di tingkat pasar.

Pengurus Perpadi Lampung, Sabar, menegaskan komitmen pengusaha penggilingan dalam mendukung program swasembada pangan pemerintah.

Menurutnya, penggilingan lokal terus berupaya menyerap hasil panen masyarakat meski menghadapi tantangan fluktuasi harga.

“Kami dari penggilingan padi berjuang keras membantu pemerintah mewujudkan swasembada pangan. Kalaupun kadang harus nombok, operasional tetap jalan agar tenaga kerja tetap terpikirkan,” ungkap Sabar saat menghadiri kunjungan kerja Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal di Pekon Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Pringsewu, Jumat (14/8/2026).

Sabar juga menilai kapasitas penyerapan gabah di daerah. Dari total produksi padi Lampung yang menembus angka kisaran 3 juta ton, kapasitas serap Bulog berada di kisaran 10 persen. Sebagian besar hasil panen lainnya diserap oleh pasar bebas dan industri penggilingan lokal.

Ia meminta pemerintah memperhatikan potensi overload stok saat puncak panen raya agar harga di tingkat petani tidak melandai drastis.

Keluhan dan harapan tersebut ditanggapi langsung oleh para petani pengguna bantuan.

Pengurus Kelompok Tani (Poktan) Sumber Tani VII, Warsito, mengaku bantuan mesin pengering berkapasitas 20 ton ini membawa dampak signifikan terhadap daya tawar dan kualitas hasil panen.

Ia menjelaskan, sejumlah keunggulan utama penggunaan mesin pengering (dryer) ketimbang metode konvensional.

Penurunan Mutu Dicegah: Kualitas gabah tetap terjaga meski panen berlangsung di tengah musim hujan atau cuaca tidak menentu.

Bebas Kontaminasi: Gabah tidak lagi tercampur material asing seperti pasir, tanah, atau batu kecil yang kerap terjadi saat penjemuran di atas terpal/tanah.

Waktu Efisien: Durasi pengeringan jauh lebih terukur, menghasilkan beras yang lebih bersih dan bernilai jual tinggi.

“Terima kasih atas perhatian pemerintah. Kalau dulu terasa hanya memperkaya pihak lain, sekarang petani sudah bisa merasakan harga yang lumayan. Kualitas beras jauh lebih bagus dan waktu pengeringannya terukur,” tutur Warsito.

Dalam peninjauan bantuan untuk Poktan Sumber Tani VII (Pekon Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa) dan Poktan Setia Tani (Pekon Tanjung Anom), Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menggelar dialog terbuka secara lesehan bersama para petani.

Gubernur Lampung yang akrab disapa Mirza ini merespon langsung berbagai masukan dari petani maupun pihak penggilingan.

Gubernur Mirza menjelaskan bahwa keterbatasan fasilitas pengeringan selama ini memang menjadi penyebab utama rentannya posisi tawar petani saat panen raya.

“Dengan adanya dryer ini, petani bisa menyimpan hasil panennya lebih lama tanpa takut rusak. Ini otomatis meningkatkan posisi tawar petani terhadap pedagang, pengumpul, maupun industri,” jelas Mirza.

Terkait dinamika harga dan distribusi beras keluar daerah, Mirza membeberkan bahwa kondisi pasar dipengaruhi oleh siklus panen di wilayah lain, termasuk di Pulau Jawa yang dalam dua bulan terakhir belum memasuki masa panen optimal.

Ia menegaskan, Pemprov Lampung terus berhati-hati dalam mengambil kebijakan penutupan keran distribusi luar daerah agar stabilitas harga dan angka inflasi tetap terkendali.

Sementara itu, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas menyampaikan apresiasi tinggi atas perhatian Pemprov Lampung terhadap sarana pertanian di wilayahnya.

Kehadiran fasilitas pascapanen diyakini mampu menekan angka kehilangan hasil (losses) sekaligus meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan.

“Bantuan ini hendaknya tidak sekadar dipandang sebagai alat fisik, melainkan upaya memperkuat kapasitas dan kemandirian kelompok tani. Saya berharap bantuan dimanfaatkan secara optimal, dikelola transparan, serta dirawat dengan baik agar manfaatnya dirasakan panjang,” tegas Bupati Riyanto.

Pemkab Pringsewu berkomitmen melanjutkan sinergi bersama penyuluh pertanian, kelompok tani, pemerintah pekon, hingga dunia usaha demi memastikan pembangunan sektor pertanian berjalan secara terintegrasi. (Tab/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *