Gubernur Mirza Dorong Teknologi Tepat Guna untuk Percepat Hilirisasi Komoditas Lampung

CAHYAMEDIA (BANDARLAMPUNG) — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong perguruan tinggi swasta menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperkuat hilirisasi komoditas, dan mengembangkan ekonomi desa.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Mirza saat menghadiri silaturahmi dan ramah tamah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) I Tahun 2026 di Mahan Agung, Bandar Lampung, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Mirza, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kekayaan sumber daya alam harus diimbangi dengan kualitas SDM agar memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“PDRB yang tinggi belum tentu bisa memakmurkan masyarakat. Kekayaan suatu daerah belum tentu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa adanya SDM yang unggul,” tegasnya.

Ia mengatakan Lampung memiliki potensi besar di sektor pertanian dan pangan, seperti padi, jagung, singkong, kopi, dan kakao. Namun, sebagian komoditas tersebut masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambahnya dinikmati daerah lain.

Mirza menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM yang mampu mengolah potensi daerah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Kesuburan tanah tidak otomatis meningkatkan kualitas SDM. Karena itu, kita harus menghubungkan kekayaan sumber daya alam dengan kualitas sumber daya manusia,” jelasnya.

Gubernur juga menyoroti kesenjangan antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi, kata dia, harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi, keterampilan, kreativitas dan kemampuan menciptakan lapangan kerja.

“Universitas harus beradaptasi dengan industri yang akan hadir di Provinsi Lampung. Kita harus menyiapkan SDM untuk bersaing, bukan hanya untuk mencari pekerjaan,” katanya.

Menurut Mirza, pemerintah daerah tengah mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi komoditas dan pengembangan lapangan kerja berbasis desa.

Ia mencontohkan komoditas jagung yang dapat diolah menjadi pakan ternak, serta singkong, kopi dan kakao yang memiliki peluang besar dikembangkan menjadi produk olahan.

Salah satu gagasan yang didorong pemerintah adalah pemanfaatan teknologi tepat guna di tingkat desa. Mirza mencontohkan pengembangan mesin pengering untuk mengolah berbagai komoditas pertanian sebelum dipasarkan.

“Kalau kita membangun ratusan unit pengering di desa, dampaknya bukan hanya terhadap pengolahan komoditas, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi desa,” tuturnya.

Ia menegaskan teknologi yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik daerah, bukan sekadar mengadopsi teknologi dari luar.

Untuk mendukung agenda tersebut, Mirza menawarkan sejumlah bentuk kolaborasi dengan perguruan tinggi swasta, mulai dari pengembangan beasiswa, penguatan pendidikan vokasi, pengabdian kepada masyarakat hingga program yang mendorong mahasiswa dan lulusan berkontribusi langsung di desa.

Salah satu gagasan yang disampaikan yakni program satu desa satu sarjana untuk memperkuat ketersediaan SDM yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan di tingkat desa.

“Di Lampung masih kurang sarjana, terutama yang memiliki kompetensi sains, teknologi, teknik, dan bidang industri. Karena itu, kita ingin menyiapkan anak-anak muda yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pembangunan,” ungkapnya.

Mirza juga mendorong perguruan tinggi mengembangkan model Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang lebih solutif. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu diharapkan dapat bekerja dalam satu tim untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata di desa.

“Pemerintah memiliki kewenangan, kampus menghadirkan pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi, dan masyarakat menjadi pelaku pembangunan. Kalau semuanya berkolaborasi, dampaknya akan jauh lebih besar,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum APTISI Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., mengatakan perguruan tinggi tengah menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI).

Menurutnya, kampus harus beradaptasi karena proses pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas.

“Dulu kita belajar hanya kepada dosen dan guru. Sekarang ilmu ada di mana-mana. Karena itu, kampus harus mampu menyesuaikan diri,” katanya.

Budi mendorong perguruan tinggi mengubah paradigma pendidikan menuju outcome-based education yang menekankan capaian kompetensi dan hasil nyata mahasiswa.

Ia juga menilai pendidikan karakter dan akhlak tetap menjadi kekuatan utama perguruan tinggi di tengah perkembangan teknologi.

“Perguruan tinggi yang akan tetap didatangi mahasiswa adalah kampus yang mampu mengajarkan akhlak,” ujarnya.

Rakernas APTISI diharapkan menjadi ruang untuk merumuskan langkah konkret menghadapi perubahan pendidikan tinggi, termasuk dalam aspek regulasi, tata kelola, kurikulum dan sistem pembelajaran. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *