Gubernur Mirza Tekankan Pentingnya Toleransi dan Kerukunan

Melalui Film Ageman

CAHYAMEDIA (BANDARLAMPUNG) — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung menggelar gala premiere film Ageman sebagai sarana edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya kebangsaan, moderasi beragama, kerukunan, harmoni, serta pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Rabu (28/10/2026).

Ageman merupakan film edukasi asal Lampung yang mengangkat tema moderasi beragama dan keberagaman. Ceritanya berfokus pada perjalanan memahami perbedaan, mengatasi intoleransi, serta pentingnya saling menghargai di tengah keberagaman.

Seluruh peserta yang hadir turut menyaksikan pemutaran film tersebut.

Usai menonton Ageman, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. (Purn) Eddy Hartono mengapresiasi FKPT Lampung dan seluruh kru yang terlibat dalam produksi film tersebut.

Eddy mengatakan dirinya bangga terhadap Provinsi Lampung karena FKPT Lampung sebagai kepanjangan tangan BNPT telah menunjukkan karya yang luar biasa. Ia juga mengapresiasi seluruh kru yang terlibat dalam pembuatan film tersebut.

“Saya bisa menonton sampai dua kali dan tidak merasa bosan. Semangat dari film Ageman adalah toleransi, dan Provinsi Lampung telah membuktikannya,” kata Eddy.

Meski demikian, Eddy mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Menurutnya, di balik kondisi Lampung yang aman dan rukun, wilayah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai tempat persembunyian (safe house) oleh jaringan terorisme.

Disisi lain, Eddy juga menilai keberagaman Lampung menjadi kekuatan dalam menjaga kerukunan. Berbagai suku dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Ia berharap film Ageman dapat menjadi contoh bagi FKPT di provinsi lain.

Selain ancaman konvensional, Eddy menyoroti perkembangan radikalisme di ruang digital. Ia menyebut terdapat komunitas atau kumpulan akun media sosial yang membahas kejahatan global, seperti True Crime Community. Fenomena tersebut disebut telah menjangkiti sekitar 782 akun di 18 provinsi.

Ancaman lain, kata Eddy, berasal dari paparan anak terhadap game online. BNPT bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah berkoordinasi dengan pengelola Roblox untuk memperkuat perlindungan anak, termasuk melalui penerapan regulasi dan pengamanan fitur voice chat.

Menurut Eddy, jaringan terorisme dapat memanfaatkan game online untuk mendekati anak-anak, membangun kedekatan, kemudian mengalihkan komunikasi ke aplikasi pesan privat seperti WhatsApp atau Telegram.

Melalui intervensi Densus 88, PPPA, dan pemerintah daerah di Lampung, sekitar sembilan anak yang sempat terpapar paham radikal berhasil ditangani. BNPT juga berkoordinasi dengan Meta di Singapura untuk mendorong pemblokiran konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Gubernur: Keberagaman adalah Kekuatan Lampung

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan film Ageman menyampaikan pesan penting tentang toleransi dan kehidupan damai di tengah keberagaman.

Menurut Gubernur Mirza, Perdamaian dan stabilitas merupakan syarat utama bagi kemajuan daerah dan negara. Ia menyebut Lampung sebagai daerah multikultural yang dihuni berbagai suku dan agama sehingga kerap disebut sebagai Indonesia mini.

Gubernur Mirza mengatakan kerukunan masyarakat Lampung turut diperkuat oleh lima falsafah Lampung, yakni Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, Juluk Adek, Nengah Nyappur, dan Piil Pesenggiri.

“Lima falsafah ini menjadi kunci kita masih bisa hidup damai,” ujarnya.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Lampung bersama tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat berkomitmen menjaga persatuan serta mencegah perpecahan.

“Perbedaan itu kita hormati. Bagi kami di Provinsi Lampung, perbedaan itu adalah keunggulan dan kesyukuran kami,” katanya.

Lanjut, Gubernur Mirza juga menilai Ageman menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang kasih sayang dan toleransi. Menurutnya, pemahaman agama semestinya mendorong manusia untuk mencintai dan menghormati sesama.

Gubernur Mirza juga mengapresiasi pelaksanaan pelatihan Digital Peace Creator bagi pelajar. Ia berharap generasi muda mampu menggunakan teknologi untuk memperkuat persatuan, bukan memperbesar perpecahan.

“Kalianlah pemilik masa depan Lampung dan Indonesia. Gunakan kemampuan kalian untuk sesuatu yang bermanfaat,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi dalam memperkuat toleransi, kerukunan, dan pencegahan radikalisme terus dilakukan demi terwujudnya Lampung yang aman, damai, dan sejahtera serta Indonesia yang semakin tangguh. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *