Gudang Rahasia yang Salah Alamat

Nasional50 Dilihat

Oleh: Majid Lintang *)

Ada banyak fungsi gudang dalam hidup manusia. Gudang beras untuk menyimpan padi. Gudang logistik untuk menyimpan barang. Gudang arsip untuk menyimpan dokumen yang sudah pensiun dari meja kerja.

Tapi tampaknya kreativitas bangsa ini memang tak pernah habis. Di Sidoarjo, publik mendadak diperkenalkan pada konsep baru: gudang militer yang diduga berubah fungsi menjadi semacam “showroom kendaraan bermasalah”.

Bukan satu dua unit. Bukan pula belasan. Yang ditemukan justru ratusan kendaraan. Sebanyak 215 sepeda motor dan 49 mobil. Jumlah yang kalau diparkir berjajar mungkin sudah cukup untuk membuat orang mengira sedang ada pameran otomotif diskon akhir tahun.

Bedanya, di pameran kendaraan biasanya ada brosur harga. Di sini yang ada justru dugaan curanmor dan penggelapan.

Publik tentu terkejut. Sebab lokasi penyimpanan kendaraan itu bukan gudang kosong di ujung kampung atau bangunan mangkrak yang dihuni kelelawar. Melainkan kawasan militer yang selama ini identik dengan disiplin, pengamanan berlapis, dan prosedur ketat.

Logikanya sederhana.

Kalau seseorang membawa satu karung berisi rambutan ke markas militer, mungkin petugas akan bertanya. Kalau masuk membawa kulkas, kemungkinan akan ditanya lebih rinci. Nah, kalau yang masuk jumlahnya ratusan kendaraan, masyarakat tentu bertanya-tanya: apakah motor-motor itu datang dengan kemampuan teleportasi?

Pertanyaan itulah yang kini berputar di kepala publik.

Karena sulit membayangkan ratusan kendaraan bisa berkumpul diam-diam seperti reuni alumni yang lupa mengirim undangan.

Kasus ini menjadi semakin pahit ketika penyelidikan mengarah pada dugaan keterlibatan oknum dari dalam institusi sendiri. Dua anggota TNI kini diperiksa.

Dan seperti biasa, setiap kali kata “oknum” muncul, masyarakat langsung menatap langit sambil tersenyum getir.

Di negeri ini, kata “oknum” kadang memiliki kemampuan ajaib. Ia muncul setiap kali ada masalah besar, lalu berdiri seperti payung yang melindungi institusi dari hujan pertanyaan. Padahal publik sebenarnya tidak sedang berburu kambing hitam. Yang mereka cari adalah jawaban.

Sebab yang membuat masyarakat marah bukan hanya dugaan pencurian kendaraan.

Yang membuat mereka kesal adalah fakta bahwa tempat yang semestinya menjadi simbol ketertiban justru terseret dalam cerita yang terasa seperti naskah sinetron kriminal edisi lembur.

Tentu kita patut menghargai langkah aparat gabungan yang berhasil membongkar kasus ini. Itu menunjukkan masih ada mekanisme pengawasan yang bekerja. Masih ada orang-orang yang menjalankan tugasnya dengan benar.

Namun keberhasilan membongkar masalah tidak otomatis menghapus pertanyaan tentang bagaimana masalah itu bisa tumbuh sebesar ini.

Ibarat menemukan seekor gajah di ruang tamu, orang tentu akan mengapresiasi siapa pun yang berhasil mengeluarkannya. Tetapi setelah itu mereka tetap ingin tahu: sejak kapan gajah itu tinggal di sana dan mengapa tidak ada yang menyadarinya?

Kini publik menunggu pembuktian.
Bukan konferensi pers yang penuh kalimat normatif. Bukan pula parade janji transparansi yang sering kali terdengar merdu di hari pertama lalu menghilang seperti sinyal internet saat hujan.

Yang dibutuhkan adalah proses hukum yang jelas, terbuka, dan berani menyentuh siapa pun yang terlibat tanpa melihat pangkat maupun jabatan.

Karena kepercayaan publik itu mirip kaca mobil. Sekali retak, masih bisa dipakai. Tapi untuk membuatnya kembali utuh, tidak cukup hanya dengan menempelkan stiker bertuliskan “percayalah pada kami”.

Perlu tindakan nyata.

Dan dalam kasus ini, tindakan nyata itulah yang sedang ditunggu rakyat. Sebab kalau sampai gudang militer saja bisa disalahgunakan menjadi tempat penitipan kendaraan hasil kejahatan, jangan-jangan yang perlu diperiksa bukan hanya isi gudangnya, tetapi juga alarm yang selama ini entah sedang tidur atau memang sengaja memakai mode senyap.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *