Ketika Algoritma Menjadi Senapan dan Kolom Komentar Menjelma Medan Tempur

Nasional21 Dilihat

Oleh: Majid Lintang *)

Ada masa ketika menjatuhkan seorang pemimpin membutuhkan tank, meriam, atau paling tidak demonstrasi berjilid-jilid di jalanan. Hari ini, cukup dengan paket data, beberapa akun anonim, segudang meme, dan pasukan jempol yang bekerja lembur tanpa mengenal hari libur.

Selamat datang di zaman ketika perang tidak lagi selalu berbau mesiu. Kadang ia berbau kopi sachet, notifikasi ponsel, dan kolom komentar yang lebih panas daripada aspal Balikpapan saat tengah hari.

Belakangan, sejumlah pengamat menyoroti gelombang serangan digital yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Serangan itu disebut tidak sepenuhnya organik. Ada dugaan pola yang terstruktur, sistematis, dan masif. Narasinya seragam. Isunya berulang. Waktunya nyaris bersamaan. Seolah-olah ada dirigen yang sedang memimpin orkestra kebisingan digital dari balik tirai.

Tentu saja, kritik kepada pemerintah adalah hal yang sah. Bahkan dalam demokrasi yang sehat, kritik adalah vitamin. Masalah muncul ketika vitamin berubah menjadi racun, ketika perdebatan berubah menjadi operasi psikologis, dan ketika ruang publik berubah menjadi pabrik persepsi.

Di media sosial, kebenaran sering kali kalah cepat dari emosi. Fakta harus berjalan kaki, sementara fitnah sudah naik pesawat jet.
Hari ini, seseorang tidak perlu membuktikan sesuatu benar. Cukup membuatnya viral.

Sebuah video dipotong sepuluh detik. Sebuah foto dicabut dari konteksnya. Sebuah meme diberi bumbu kemarahan. Lalu algoritma bekerja seperti pelayan restoran yang terlalu bersemangat: apa pun yang membuat orang marah akan disajikan berulang-ulang sampai kenyang.

Ironisnya, banyak pengguna media sosial merasa dirinya sedang berpikir mandiri, padahal mungkin sedang digiring seperti rombongan wisata yang mengikuti pemandu dengan pengeras suara.
Pengamat intelijen Amir Hamzah menyebut fenomena ini sebagai bagian dari psyops digital atau operasi psikologis di ruang siber. Istilahnya memang terdengar seperti judul film mata-mata murah yang tayang tengah malam. Namun substansinya patut dipikirkan.

Dalam perang modern, yang diserang bukan hanya wilayah. Yang direbut bukan hanya sumber daya alam. Yang menjadi sasaran adalah pikiran manusia.

Jika rakyat kehilangan kepercayaan kepada institusi, jika publik terus-menerus dicekoki narasi bahwa semua buruk, semua gagal, semua hancur, maka kerusakan bisa terjadi bahkan sebelum satu pun batu dilempar ke jalan.
Inilah yang disebut perang persepsi.

Lucunya, perang jenis ini sering kali membuat orang merasa dirinya paling bebas. Padahal mungkin ia hanya sedang menjadi sasaran iklan politik yang lebih canggih.

Dulu propaganda dicetak di kertas. Sekarang propaganda muncul dalam bentuk video lucu berdurasi 30 detik.

Dulu agitasi dilakukan lewat pengeras suara. Sekarang dilakukan lewat akun anonim dengan foto profil karakter anime.
Dulu orang berdebat dengan argumen. Kini sebagian berdebat dengan emoji.

Tentu tidak semua kritik kepada Presiden Prabowo dapat dicap sebagai operasi digital. Cara berpikir seperti itu justru berbahaya. Demokrasi membutuhkan ruang kritik yang luas. Pemerintah yang alergi kritik biasanya berakhir seperti orang yang menutup termometer karena tidak suka melihat suhu tubuhnya.

Namun di sisi lain, publik juga tidak boleh naif. Tidak semua yang viral lahir dari keresahan rakyat. Tidak semua tagar muncul secara spontan. Tidak semua kemarahan digital tumbuh secara alami.

Kadang ada mesin yang bekerja di belakang layar. Ada strategi. Ada target. Ada biaya. Dan sering kali ada kepentingan.

Media sosial pada akhirnya adalah medan tempur baru yang tidak memiliki parit, tidak memiliki bunker, dan tidak mengenal gencatan senjata. Perangnya berlangsung 24 jam sehari. Senjatanya adalah narasi. Pelurunya adalah emosi. Korbannya adalah akal sehat.

Karena itu, tugas terbesar masyarakat bukan menjadi pendukung membabi buta ataupun pembenci profesional. Tugas terbesar kita justru menjaga kemampuan berpikir jernih di tengah banjir informasi yang setiap detik berusaha merebut perhatian.

Sebab dalam era algoritma, ancaman terbesar bukanlah perbedaan pendapat.

Ancaman terbesar adalah ketika kita berhenti memeriksa kebenaran dan mulai mempercayai apa pun yang paling sering lewat di beranda.

Ketika itu terjadi, perang telah dimenangkan bahkan sebelum kita sadar bahwa kita sedang berada di medan tempur.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *