Knalpot, Seragam, dan Negara yang Mudah Tersulut

Nasional12 Dilihat

Oleh: Majid Lintang *)

Indonesia tampaknya sedang mengalami krisis yang aneh: bukan krisis senjata, bukan pula krisis ideologi, melainkan krisis kesabaran.

Sebuah suara knalpot bisa berubah menjadi perkelahian. Sebuah teguran bisa menjelma bentrokan. Sebuah kesalahpahaman kecil dapat berkembang menjadi tontonan nasional di layar ponsel jutaan orang.

Itulah yang terjadi di Bendungan Way Rarem, Lampung Utara. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah oknum anggota TNI terlibat adu fisik dengan warga sipil. Menurut keterangan resmi pemerintah daerah, semuanya bermula dari suara knalpot motor yang dianggap terlalu bising. Teguran diberikan. Warga bereaksi. Emosi naik. Tangan bergerak lebih cepat daripada akal sehat.

Delapan pemuda harus dibawa ke rumah sakit. Luka-luka diobati. Namun pertanyaan yang lebih besar justru sulit disembuhkan: mengapa bangsa ini begitu mudah terbakar oleh percikan sekecil apa pun?

Kita hidup di negeri yang paradoks. Orang-orang yang sejak kecil diajarkan gotong royong justru semakin mudah saling curiga. Teguran dianggap penghinaan. Kritik dipahami sebagai permusuhan. Perbedaan pendapat dibaca sebagai tantangan harga diri.

Padahal negara yang dewasa bukanlah negara yang bebas konflik. Negara yang dewasa adalah negara yang mampu mengelola konflik tanpa kehilangan akal sehat.

Kasus Way Rarem bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Pada 2024, publik dikejutkan bentrokan antara oknum TNI dan anggota Polri di Sorong, Papua Barat Daya. Penyebabnya sepele: salah paham yang berkembang menjadi aksi saling serang. Sebelumnya, masyarakat juga menyaksikan bentrokan aparat di Bitung, Sulawesi Utara, yang dipicu persoalan komunikasi di lapangan.

Di Deliserdang, Sumatera Utara, pernah terjadi gesekan antara anggota TNI dengan warga terkait sengketa lahan. Di Jeneponto, Sulawesi Selatan, konflik antara aparat dan masyarakat bermula dari persoalan penertiban yang gagal dikelola secara persuasif. Bahkan di beberapa daerah lain, hanya karena ketersinggungan sesaat di jalan raya, adu mulut berubah menjadi adu pukul.

Penyebabnya hampir selalu sama: ego yang lebih cepat bekerja daripada nalar.

Kita sering membanggakan budaya timur yang santun. Namun media sosial setiap hari memperlihatkan betapa tipisnya lapisan kesantunan itu. Sedikit tersenggol, marah. Sedikit ditegur, tersinggung. Sedikit berbeda pendapat, mengancam.

Seolah-olah harga diri hanya bisa dipertahankan dengan meninggikan suara dan mengepalkan tangan.
Padahal kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan menahan diri.

Bagi aparat negara, kemampuan mengendalikan emosi bukan sekadar tuntutan moral, melainkan bagian dari profesionalisme. Seragam memberi kewenangan, tetapi sekaligus membebankan tanggung jawab yang lebih besar. Masyarakat menaruh harapan agar aparat menjadi pihak pertama yang mendinginkan keadaan, bukan ikut menambah panas.

Di sisi lain, warga sipil pun memiliki kewajiban yang sama. Tidak setiap teguran harus dibalas dengan kemarahan. Tidak semua persoalan harus dijawab dengan konfrontasi. Ada ruang bernama dialog yang semakin jarang kita gunakan.

Barangkali inilah ironi terbesar kita sebagai bangsa.

Kita mampu bertahan menghadapi pandemi. Kita sanggup melewati krisis ekonomi. Kita bisa menghadapi bencana alam yang datang silih berganti. Namun kita sering kalah menghadapi diri sendiri.

Kalah oleh emosi sesaat.

Kalah oleh gengsi.

Kalah oleh hasrat untuk merasa paling benar.

Peristiwa Way Rarem semestinya menjadi cermin, bukan sekadar tontonan viral yang hilang ditelan linimasa. Sebab jika sebuah knalpot nyaring saja dapat memicu bentrokan, sesungguhnya yang sedang bermasalah bukan hanya suara motor itu.

Yang sedang bermasalah adalah kemampuan kita mendengar orang lain tanpa merasa diserang.

Negara tidak runtuh karena perbedaan. Negara runtuh ketika warganya kehilangan kesabaran untuk hidup bersama dalam perbedaan itu.

Dan mungkin, di tengah zaman yang gaduh ini, keberanian terbesar bukanlah memenangkan perkelahian.

Melainkan memilih untuk tidak memulainya.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *