Obituari: Senyap yang Menjadi Sejarah — Try Sutrisno

Nasional38 Dilihat

OPINI

Oleh: Majid Lintang *)

ADA kepergian yang tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga gema panjang dalam ingatan sebuah bangsa. Hari ini, Indonesia merunduk dalam hening. Seorang prajurit telah menutup langkahnya; seorang jenderal telah meletakkan hormat terakhirnya pada waktu.

Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935, di sebuah zaman yang belum benar-benar reda dari riuh perjuangan. Ia tumbuh ketika tanah air masih mencari bentuknya, ketika sejarah belum selesai dituliskan. Dari kota pelabuhan yang keras dan penuh gelombang itulah ia belajar tentang arti teguh dan bertahan.

Ia memilih seragam sebagai takdir. Dalam disiplin yang ketat dan barak-barak yang sunyi, ia menenun kesetiaan. Kariernya menanjak bukan dengan gemuruh, melainkan dengan langkah-langkah yang pasti. Dari komando daerah hingga pucuk pimpinan Angkatan Bersenjata, ia dikenal sebagai perwira yang lebih menyukai kerja daripada kata-kata, lebih percaya pada tugas daripada tepuk tangan.

Ketika ia dipercaya menjadi Panglima ABRI pada 1988, Indonesia sedang berdiri di simpang zaman. Angin perubahan mulai berdesir, meski belum menjadi badai. Ia memimpin di masa yang tidak sederhana—masa ketika stabilitas dijaga dengan kewaspadaan, dan setiap keputusan memiliki gema politik yang panjang.

Puncak pengabdiannya di panggung sipil tiba saat ia mendampingi Suharto sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia (1993–1998). Di Istana, ia tetaplah prajurit—tenang, terkendali, dan tidak berlebihan dalam cahaya sorot. Ia bukan tokoh yang gemar berdiri di depan mikrofon, melainkan sosok yang bekerja dalam lorong-lorong kebijakan, menjaga irama pemerintahan tetap teratur pada masa yang penuh kehati-hatian.

Namanya melekat pada sebuah era ketika militer dan negara berjalan beriringan dalam satu tarikan napas sejarah. Ia adalah bagian dari mozaik besar Orde Baru—sebuah zaman dengan segala capaian dan perdebatan yang menyertainya. Dan seperti setiap tokoh yang hidup dalam pusaran sejarah, ia tak terpisah dari dinamika yang membentuk sekaligus mengujinya.

Kini, pangkat telah ditanggalkan, jabatan telah selesai. Yang tersisa adalah jejak: jejak disiplin, jejak kesetiaan, jejak seorang anak bangsa yang melintasi dua dunia—barak dan istana—tanpa pernah sepenuhnya meninggalkan watak prajuritnya.

Selamat jalan, Jenderal.
Dalam sunyi yang kau pilih sepanjang hidupmu, bangsa ini mengenangmu dengan hormat.***

*) Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *