Pemprov Lampung Hadirkan SMA Terbuka bagi Warga Binaan

CAHYAMEDIA (BANDARLAMPUNG) – Jeruji besi tak lagi menjadi penghalang pendidikan bagi warga binaan pemasyarakatan untuk merajut cita-cita dan memperbaiki masa depan.

Melalui terobosan program SMA Terbuka yang digagas Pemerintah Provinsi Lampung, belasan warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kotabumi kini mendapat kesempatan mengecap pendidikan formal secara cuma-cuma.

Program inklusif ini dihadirkan Pemprov Lampung guna memperluas pemerataan akses pendidikan, khususnya menjangkau anak-anak putus sekolah serta warga binaan yang terpisah dari sistem sekolah regular.

Dalam pelaksanaannya, SMAN 1 Kotabumi ditunjuk menjadi salah satu sekolah induk penyelenggara SMA Terbuka di Provinsi Lampung.

Tak hanya membina siswa dari masyarakat umum, sekolah ini mendatangi langsung para warga binaan di dalam rutan.

Kepala SMAN 1 Kotabumi, Media Sari Putri, menjelaskan bahwa program inisiasi Gubernur Lampung dan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung ini mendapat respons sangat positif. Jumlah peserta dari dalam rutan terus bertambah setiap pekannya.

“Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi, Bapak Gubernur, dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan untuk mengakomodasi anak-anak yang putus sekolah. Antusiasmenya cukup baik dan peserta terus bertambah,” ungkap Media Sari Putri di Kantor Gubernur Lampung, Rabu (7/10/2026).

Saat ini, SMAN 1 Kotabumi menampung sekitar 23 siswa SMA Terbuka. Sebanyak 8 siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) SMAN 1 Kotabumi, sementara 15 siswa lainnya merupakan warga binaan aktif di Rutan Kotabumi.

Media menerangkan bahwa pola pembelajaran bagi warga binaan mengusung sistem mobile teaching atau kunjungan guru.

Tenaga pengajar dari setiap mata pelajaran mendatangi langsung rutan setiap hari Sabtu untuk memberikan materi pembelajaran secara tatap muka penuh dari pagi hingga sore.

“Setiap minggu, guru dari masing-masing mata pelajaran datang ke rutan. Ruangan belajar khusus sudah disiapkan pihak rutan, jadi mereka belajar penuh seperti siswa sekolah biasa,” jelasnya.

Berbeda dari program pendidikan luar sekolah berbasis kejar paket, peserta SMA Terbuka tetap menempuh kurikulum formal murni selama tiga tahun sebagaimana siswa SMA pada umumnya.

Selain menyasar warga binaan, Pemprov Lampung bersama jajaran Forkopimcam, camat, hingga aparatur desa terus menyisir anak-anak usia sekolah yang terputus pendidikannya akibat kendala ekonomi maupun pekerjaan. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *