Pemprov Siapkan Langkah Antisipasi, Ini Imbauan Sekdaprov Marindo Saat Hadapi Musim Kemarau

CAHYAMEDIA (BANDARLAMPUNG) — Menghadapi kemarau panjang dan El Nino hingga November 2026, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, mengajak seluruh elemen masyarakat bekerja sama menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan.

Ia menyampaikan bahwa pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah penanganan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada dukungan semua pihak.

“Musim kemarau ini kita hadapi bersama. Pemerintah menjaga pasokan pangan, harga, dan air. Tapi masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab,” ungkap Marindo, Selasa (25/8/2026).

Masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air di rumah, tempat ibadah, maupun fasilitas umum, mengingat debit air diperkirakan akan terus menurun. Kurangi penggunaan air yang tidak perlu, perbaiki keran yang bocor, dan manfaatkan air seefisien mungkin.

“Air yang kita hemat hari ini adalah bekal untuk nanti. Jangan tunggu sumur kering baru sadar. Kebiasaan kecil kalau dilakukan bersama, hasilnya besar,” terangnya.

Jangan Membakar Lahan atau Sampah

Pembakaran lahan dan sampah sangat dilarang saat musim kemarau. Angin kering dan suhu panas dapat membuat api kecil meluas dengan cepat. Asap mengganggu kesehatan dan keselamatan, sementara lahan yang terbakar kehilangan kesuburannya.

“Saya tekankan: dilarang membakar lahan maupun sampah sembarangan. Kalau melihat ada yang membakar, ingatkan atau laporkan. Mencegah jauh lebih baik daripada memadamkan,” pesannya.

Petani dan pengelola perkebunan diminta menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air dan tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan. Pemerintah menyiagakan pompa air dan mendukung irigasi, namun penggunaan air perlu diatur bersama agar adil.

“Bapak Ibu petani adalah yang paling merugi kalau lahan terbakar. Mari gunakan cara yang aman dan hemat air, supaya tanaman tetap terjaga dan hasil panen tetap baik,” jelas Marindo.

Pelaku usaha diminta memberikan data penggunaan air secara terbuka kepada pemerintah. Kebutuhan industri memang penting, tetapi kebutuhan air warga tidak boleh terabaikan.

“Industri butuh air, masyarakat juga butuh air. Keduanya harus seimbang. Keterbukaan data adalah wujud tanggung jawab perusahaan terhadap warga,” tegasnya.

Tokoh masyarakat, tokoh agama, serta perangkat desa diharapkan menyampaikan pesan-pesan ini ke warga. Pesan akan lebih mudah dipahami dan dijalankan jika datang dari orang yang dikenal sehari-hari.

“Yang paling tahu kondisi di lapangan adalah Bapak Ibu sekalian. Masukkan pesan ini ke dalam pertemuan warga, pengajian, atau rapat RT. Jadikan menjaga air dan mencegah kebakaran sebagai kesepakatan bersama,” ajak Marindo.

Pemerintah sudah menyiapkan cadangan pangan, pemetaan sumber air, serta bantuan air bersih dan pompa air di 14 kabupaten/kota. Namun, semua upaya ini akan lebih efektif jika dilakukan bersama-sama.

“Pemerintah provinsi di bawah komando Bapak Gubernur Lampung tidak bisa berjalan sendiri. Mari jaga air, jaga lahan, dan saling membantu. Itulah gotong royong yang sesungguhnya,” tutur Marindo Kurniawan. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *