Pocong, WhatsApp, dan Ketukan Tengah Malam

Nasional72 Dilihat

*Suara Pinggiran*

Oleh : Majid Lintang *)

Di negeri yang terlalu sering kalah oleh kabar burung, bahkan pocong kini punya profesi baru: perampok.

Warga Kabupaten Mesuji beberapa hari ini dibuat resah oleh kabar beredarnya “pocong maling” yang mengetuk pintu rumah warga tengah malam. Ceritanya nyaris sempurna seperti skenario film horor lokal produksi murah: larut malam, suasana sepi, terdengar ketukan pelan di pintu, lalu ketika dibuka, berdirilah sesosok putih terbungkus kain. Bedanya, kali ini pocong itu tidak mencari doa. Ia mencari emas, ponsel, dan mungkin dompet yang belum sempat disembunyikan ibu-ibu di balik tumpukan baju lemari.

Media sosial langsung bekerja seperti biasa: lebih cepat dari polisi, lebih gaduh dari toa masjid, dan lebih percaya diri dari ahli forensik. Video pendek beredar dari Facebook ke WhatsApp, dari grup keluarga hingga grup alumni SD yang biasanya cuma ribut soal undangan nikahan dan promo minyak goreng.

Ada yang percaya penuh. Ada yang menertawakan. Ada pula yang mulai memeriksa pintu rumah tiga kali sebelum tidur sambil membaca ayat kursi dengan volume batin maksimal.

Kalimat paling jujur justru datang dari komentar warga sendiri: “Sekarang yang bikin takut bukan lagi hantu, tapi manusia yang pura-pura jadi hantu.”

Dan memang begitulah wajah zaman kita sekarang. Makhluk gaib perlahan kalah menakutkan dibanding manusia kreatif yang sedang butuh uang.

Dulu orang takut pocong karena urusan alam kubur. Sekarang orang takut pocong karena urusan cicilan motor dan emas kawin.

Yang menarik, isu “pocong kriminal” ini ternyata bukan monopoli Mesuji. Tangerang ramai. Bekasi ikut gaduh. Madiun bahkan sudah sempat menyatakan kabar serupa sebagai hoaks. Tetapi di era media sosial, klarifikasi sering berjalan pincang. Hoaks selalu punya kaki lebih panjang dibanding penjelasan resmi.

Apalagi masyarakat Indonesia memang memiliki hubungan emosional yang unik dengan dunia mistis. Kita ini bangsa yang bisa tertawa saat nonton film hantu, tetapi langsung merinding ketika mendengar suara pagar berderit jam dua pagi.

Karena itu modus seperti ini bekerja bukan semata karena kelihaian pelaku, melainkan karena ketakutan kolektif yang sudah lama dipelihara. Ketika rasa takut muncul, logika biasanya pamit duluan.

Di kampung-kampung, ketukan pintu tengah malam selalu punya efek psikologis tersendiri. Orang langsung membayangkan dua kemungkinan: kabar kematian atau makhluk halus. Tidak ada yang spontan berpikir, “Ah mungkin kurir paket.”

Maka ketika ada sosok putih berdiri di depan rumah, kepanikan menjadi senjata paling ampuh. Bahkan sebelum senjata asli dikeluarkan.

Di titik inilah persoalannya menjadi serius. Sebab bisa jadi yang sedang berkeliaran bukan pocong sungguhan, melainkan manusia yang memahami satu hal penting: rasa takut warga jauh lebih efektif daripada linggis.

Polisi menduga modus ini sengaja dipakai untuk memancing warga keluar rumah atau membuat lingkungan panik sehingga pelaku lebih leluasa mencuri saat suasana kacau. Logikanya sederhana. Orang takut biasanya sulit berpikir jernih. Dan penjahat selalu menyukai situasi ketika korban sibuk panik.

Mungkin karena itu, imbauan paling masuk akal saat ini bukan membahas apakah pocong itu asli atau palsu. Sebab kalau pocong asli, kecil kemungkinan dia membutuhkan televisi 32 inci atau tabung gas tiga kilogram.

Yang jauh lebih penting adalah mengembalikan kewaspadaan warga tanpa ikut tenggelam dalam histeria massal. Jangan mudah membuka pintu tengah malam. Pastikan siapa tamunya. Bangunkan anggota keluarga. Hubungi tetangga. Dan kalau perlu, biarkan saja yang mengetuk itu menunggu sampai ayam pertama berkokok.

Karena di negeri ini, kadang yang paling menyeramkan memang bukan suara dari alam gaib.

Melainkan manusia yang hafal cara memanfaatkan ketakutan orang lain.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *