Profesor Serangga yang Dikalahkan Netizen

Nasional52 Dilihat

Oleh: Majid Lintang *)

Indonesia memang negeri yang unik. Di negara lain, orang mungkin membahas inflasi, perang dagang, atau perlombaan teknologi kecerdasan buatan. Di Indonesia, kita punya topik yang jauh lebih membumi: makan siang.

Bahkan kalau dipikir-pikir, negeri ini perlahan berubah menjadi Republik MBG. Bangun tidur, ada berita MBG. Buka media sosial, MBG lagi. Nongkrong di warung kopi, yang dibahas tetap MBG. Tinggal menunggu ada lomba panjat pinang berhadiah paket MBG dan kompetisi catur bertema MBG agar lengkap sudah.

Di tengah hiruk-pikuk itu, berdirilah seorang tokoh bernama Dadan Hindayana. Seorang profesor, akademisi, peneliti, dan spesialis serangga yang riwayat hidupnya membuat sebagian besar netizen merasa CV mereka hanyalah daftar hadir pengajian RT.

Pria asal Garut ini bukan lulusan sembarangan. Ia menempuh pendidikan hingga doktoral di Jerman. Karier akademiknya panjang dan penuh prestasi. Skor Sintanya mencapai angka yang membuat sebagian dosen mendadak ingin memeriksa kembali nasib akademiknya. Penghargaan yang diterima berjejer panjang. Dari FAO, Bappenas, hingga Satyalancana Karya Satya berbagai tingkatan.

Kalau urusan kumbang, wereng, ulat, dan nyamuk, boleh jadi beliau lebih mengenal mereka dibanding tetangga sebelah rumah.

Sayangnya, tak ada fakultas di dunia yang mengajarkan satu mata kuliah penting: “Pengantar Menghadapi Netizen Indonesia.”
Mungkin itulah yang menjadi titik lemah.

Ketika dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional, tugas yang diemban sebenarnya mulia. Program Makan Bergizi Gratis digadang-gadang menjadi salah satu proyek sosial terbesar dalam sejarah republik. Memberi makan puluhan juta anak Indonesia tentu bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan satu teko kopi dan dua lembar notulen rapat.

Namun seperti biasa, politik Indonesia memiliki selera humor yang aneh.

Alih-alih sibuk membahas menu makanan, publik justru lebih sering membahas kontroversinya. Mulai dari pengadaan motor listrik yang membuat orang sibuk menghitung jumlah kendaraan ketimbang jumlah porsi makanan. Kemudian muncul anggaran event organizer yang nominalnya cukup untuk membuat rakyat spontan mengambil kalkulator.

Belum selesai satu polemik, datang lagi video golf yang beredar saat sebagian daerah sedang menghadapi bencana.

Padahal penjelasannya sudah ada. Katanya kegiatan amal. Katanya untuk penggalangan dana. Tapi netizen Indonesia memiliki kemampuan khusus yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: mengambil kesimpulan dalam waktu lebih cepat daripada mie instan matang.

Belum sempat klarifikasi selesai dibaca, vonis publik sudah turun.
Lalu datang pula usulan memperluas program MBG ke Sekolah Indonesia di Jeddah dan Makkah. Ide yang mungkin terdengar mulia, tetapi langsung membuat banyak anggota DPR mengernyitkan dahi seperti sedang membaca tagihan listrik bulan ini.

Logikanya sederhana.

Kalau target di dalam negeri masih puluhan juta orang, mengapa tiba-tiba koper sudah disiapkan untuk berangkat ke Timur Tengah?

Pertanyaan itu terus bergulir. Ditambah berbagai kasus keracunan yang mencoreng program MBG di sejumlah daerah, tekanan publik semakin sulit dibendung.

Dan seperti lazimnya dunia politik, ketika serial mulai kehilangan rating, produser biasanya mencari pemain baru.

Akhirnya pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo melakukan apa yang sering disebut dalam bahasa birokrasi sebagai “penyegaran organisasi”, dan dalam bahasa rakyat sebagai “kena copot.”

Dadan Hindayana pun resmi meninggalkan kursi Kepala BGN.
Begitulah nasib seorang profesor serangga di negeri demokrasi digital.

Ia berhasil meneliti kehidupan kumbang pascatambang. Ia memahami perilaku tikus sawah. Ia menguasai dunia wereng dan hama tanaman. Namun pada akhirnya, lawan terberatnya bukanlah serangga, bukan pula tikus.

Melainkan tiga spesies yang jauh lebih sulit diprediksi.

Pertama, birokrasi.

Kedua, politik.

Ketiga, netizen.

Yang terakhir ini bahkan lebih berbahaya. Sebab kumbang masih bisa diamati perilakunya. Netizen tidak. Hari ini memuji setinggi langit, besok melempar tomat virtual tanpa peringatan.

Di Indonesia, jabatan publik memang ibarat duduk di atas kompor gas. Selama api kecil, semua terlihat baik-baik saja. Tetapi ketika api membesar, yang pertama gosong biasanya bukan wajannya, melainkan orang yang duduk di atasnya.
Selamat jalan dari panggung BGN, Prof. Dadan.

Dunia akademik mungkin kehilangan seorang pejabat.
Tetapi dunia entomologi barangkali sedang bersiap menyambut pulang salah satu putra terbaiknya.

Dan mungkin, setelah semua ini, kumbang-kumbang di laboratorium akan terasa jauh lebih ramah daripada kolom komentar media sosial.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *