Senandung di Ujung Usia

Nasional13 Dilihat

CARPEN

Oleh : Majid Lintang

Setiap senja turun seperti napas terakhir yang ditunda, Rahman duduk di kursi rotan yang mulai rapuh. Tangannya gemetar, bukan karena usia semata, tetapi karena sesuatu yang lebih lama dari waktu: rindu yang tidak pernah belajar mati.

Ia menyanyi.

Suara itu tidak lagi utuh. Serak, retak, seperti kaca yang pernah pecah lalu disatukan kembali dengan air mata. Namun lagu itu—lagu yang sama selama puluhan tahun—tetap keluar dengan setia, seakan hafal jalan pulang.

Tetangga-tetangga melewatinya dengan tatapan iba. Mereka hanya melihat seorang lelaki yang hidup terlalu lama, terlalu sendiri.

Mereka tidak tahu: ia tidak pernah sendiri.

Di kursi kosong di sebelahnya, selalu ada seseorang.

Perempuan itu—Sulastri—dengan rambut yang dulu hitam dan kini hanya tinggal kenangan—duduk diam, mendengarkan. Tidak terlihat, tidak terdengar, tetapi terasa. Seperti angin yang tidak bisa digenggam, namun selalu menyentuh kulit.

“Masih lagu yang sama,” bisiknya suatu sore.

Rahman tersenyum.
“Karena aku belum selesai mencintaimu, Las.”

Hingga suatu hari, suaranya benar-benar hilang.

Ia duduk seperti biasa. Senja turun seperti biasa.

Rahman membuka mulutnya.

Tidak ada suara.

Namun angin bergerak pelan, membawa melodi yang lahir dari sesuatu yang lebih dalam dari suara.

Keesokan paginya, Rahman tak lagi di kursi itu.

Namun setiap senja, lagu itu tetap ada—

seperti cinta Rahman kepada Sulastri: tidak terlihat, tapi abadi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *