Senja Terakhir Vidi Aldiano: Ketika “Nuansa Bening” Pulang ke Keheningan

Nasional9 Dilihat

OPINI

Oleh: Majid Lintang *)

LANGIT musik Indonesia kehilangan satu nadanya yang paling jernih.
Pada Sabtu sore, 7 Maret 2026, pukul 16.33 WIB, penyanyi pop Indonesia Vidi Aldiano mengembuskan napas terakhirnya. Ia berpulang dalam usia 35 tahun, dikelilingi keluarga yang setia mendampingi hingga detik paling sunyi dalam hidupnya.

Nama lengkapnya Oxavia Aldiano bin Harry Aprianto.
Namun bagi jutaan pendengar di negeri ini, ia cukup dikenal sebagai Vidi—suara lembut yang pernah mengisi ruang-ruang radio, perjalanan malam, juga kenangan cinta banyak orang.

Sejak 2019, Vidi menjalani perjalanan panjang melawan kanker ginjal stadium tiga. Ia berkali-kali menjalani perawatan intensif, termasuk berobat hingga ke Penang, Malaysia. Tubuhnya semakin kurus, namun semangatnya tak pernah benar-benar meredup. Ia menjalani diet dan berbagai rangkaian pengobatan dengan harapan memperpanjang waktu—bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk terus bernyanyi.

Pada akhirnya, waktu memiliki caranya sendiri untuk menutup sebuah lagu.

Pesan dari orang tuanya yang beredar selepas kabar duka itu berbunyi sederhana namun penuh kepasrahan:

> “Telah wafat anak kami: Oxavia Aldiano bin Harry Aprianto.
Vidi berpulang didampingi seluruh keluarga besar yang ikhlas akan kepergiannya menghadap Allah SWT.
Selamat jalan menuju cahaya Ilahi, Nak.”

Kalimat itu seperti epilog dari sebuah perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum panggung-panggung besar mengenalnya.

Anak yang Tumbuh dari Rumah Musik

Vidi lahir di Jakarta, 29 Maret 1990.
Ia adalah anak sulung dari pasangan Harry Aprianto Kissowo dan Besbarini—seorang guru piano yang menjadikan rumah mereka penuh dengan nada.

Musik bagi Vidi bukan sekadar profesi yang datang kemudian; ia adalah bahasa pertama yang ia dengar sejak kecil. Bahkan pada usia sekitar dua setengah tahun, Vidi sudah berani mengikuti lomba menyanyi. Seolah sejak awal hidupnya memang telah diarahkan ke panggung.

Namun jalan menuju popularitas tidak selalu mulus.

Pada 2006 ia mencoba mengikuti audisi Indonesian Idol, tetapi langkahnya hanya sampai tahap awal. Banyak orang mungkin akan berhenti di sana. Vidi justru memilih jalan yang lebih sunyi: merekam demo album secara mandiri saat masih duduk di bangku sekolah.

Penolakan demi penolakan dari label rekaman sempat ia terima.
Tetapi seperti lagu yang belum selesai ditulis, kisahnya belum mencapai reffrain.

Pelangi yang Muncul di Malam Hari

Pada 2008, akhirnya album debutnya dirilis: “Pelangi di Malam Hari.”

Album itu menjadi titik balik.
Lagu-lagu seperti Nuansa Bening dan Status Palsu segera menyebar melalui radio dan televisi. Suaranya yang lembut, bersih, dan emosional membuatnya cepat diterima generasi muda.

Vidi bukan tipe penyanyi yang meledak sekali lalu hilang.
Selama lebih dari satu dekade, ia tetap hadir dengan konsisten—menulis lagu, tampil di panggung, menjadi pembawa acara, bahkan menjelajah dunia podcast dan akting.

Ia adalah musisi yang tumbuh bersama pendengarnya.

Cinta yang Datang di Tengah Perjuangan

Dalam kehidupan pribadi, Vidi menemukan pelabuhan tenang bersama aktris Sheila Dara Aisha.
Keduanya menikah pada 15 Januari 2022 setelah menjalin hubungan yang cukup lama.

Pernikahan itu menjadi bab yang hangat dalam hidupnya—terutama di tengah perjuangan melawan penyakit yang tidak ringan. Sheila kerap terlihat mendampinginya, seperti nada harmoni yang setia menjaga melodi utama.

Lagu yang Tidak Pernah Benar-Benar Usai

Kepergian Vidi Aldiano meninggalkan ruang kosong di industri musik Indonesia.
Ia bukan hanya penyanyi pop; ia adalah suara generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu tentang cinta yang sederhana, kerinduan yang jujur, dan harapan yang tidak berisik.

Beberapa penyanyi mungkin dikenang karena kekuatan vokalnya.
Sebagian lagi karena pencapaian panggungnya.

Vidi dikenang karena ketulusan suaranya.

Kini, suara itu memang telah berhenti di dunia yang kita dengar.
Namun lagu-lagunya akan tetap berputar—di radio lama, di daftar putar ponsel, di kafe-kafe kecil, dan di hati orang-orang yang pernah merasa hidupnya ditemani oleh musiknya. 🎶

Barangkali benar:
seorang penyanyi tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah tempat—
dari panggung dunia
ke ruang kenangan yang lebih sunyi. ***

*) Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *