Suara Pinggiran Ketika Cicilan Menjelma Jadi Begal

Lampung, Nasional59 Dilihat

SUARA PINGGIRAN

Oleh: Majid Lintang *)

Di Lampung, begal sudah seperti hantu. Tak perlu muncul, namanya saja cukup membuat orang panik.

Maka ketika seorang pria datang ke kantor polisi di Bandar Lampung sambil membawa cerita dramatis tentang motor yang dirampas kawanan penjahat di jalan sepi, publik nyaris tidak punya alasan untuk curiga. Cerita itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal, malah.

Ada motor hilang.

Ada lokasi yang meyakinkan.

Ada kronologi yang terdengar seperti sinetron kriminal menjelang tengah malam.

Dan yang paling penting: ada begal.

Masalahnya, satu-satunya hal yang benar dalam cerita itu hanyalah keberadaan motornya. Begalnya ternyata hanya hidup dalam imajinasi pelapor.

Muhammad Rizky Perdana, anggota Komponen Cadangan TNI AL, diduga menciptakan sebuah karya fiksi kriminal lengkap dengan tokoh, latar, konflik, dan korban. Bedanya, karya ini tidak dikirim ke penerbit, melainkan ke kantor polisi.

Polisi yang awalnya mungkin mengira sedang menangani kasus pencurian dengan kekerasan justru menemukan sesuatu yang lebih menarik: kasus pencurian akal sehat.

Motor yang diklaim hilang ternyata sudah lebih dulu dijual.

Tidak dirampas.

Tidak dibegal.

Tidak lenyap secara misterius.

Motor itu berpindah tangan melalui transaksi yang jauh lebih damai dibandingkan cerita yang dibuat pelapor.

Harga jualnya Rp6,5 juta.

Dengan kata lain, motor tersebut bukan korban kejahatan jalanan, melainkan korban marketplace versi offline.

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah upaya pelaku memperkuat alur ceritanya. Ia mengaku sebagai anggota aktif TNI AL berpangkat Sersan Satu yang berdinas di Lanal Panjang.

Sayangnya, ada satu kelemahan dalam dunia nyata yang tidak dimiliki dunia dongeng.

Dunia nyata memiliki data.

Dan data ternyata tidak kenal kompromi.

Ketika dicek, nama yang bersangkutan tidak tercatat sebagai personel aktif sebagaimana yang diklaim. Seperti banyak kebohongan lain, cerita itu runtuh bukan karena terlalu rumit, tetapi karena terlalu percaya diri.

Kasus ini mengingatkan kita pada fenomena yang semakin sering terjadi di masyarakat modern: orang tidak hanya ingin menyelesaikan masalah, tetapi ingin menyelesaikannya dengan skenario yang spektakuler.

Utang cicilan motor? Bisa saja diakui.

Motor dijual karena kebutuhan ekonomi? Mungkin memalukan, tetapi masih bisa dijelaskan.

Namun entah mengapa, sebagian orang memilih jalur kreatif. Mereka menambahkan unsur kriminalitas, drama, bahkan identitas palsu agar cerita terdengar lebih heroik.

Barangkali karena dalam masyarakat yang gemar mengonsumsi sensasi, kenyataan terasa terlalu biasa.

Padahal setiap laporan palsu memiliki biaya sosial yang tidak kecil.

Ketika polisi mengejar begal yang tidak ada, waktu terbuang.

Ketika petugas memeriksa lokasi kejadian yang fiktif, tenaga terkuras.

Ketika sumber daya digunakan untuk memburu hantu, pelaku kejahatan sungguhan bisa saja lolos dari perhatian.

Ironisnya, di saat banyak warga benar-benar menjadi korban begal dan harus berjuang keras meyakinkan aparat tentang apa yang mereka alami, ada pula orang yang justru sibuk menciptakan begal dari nol.

Mungkin inilah satu-satunya industri kreatif yang tidak pernah diminta negara.

Pada akhirnya, kasus ini bukan sekadar cerita tentang motor yang dijual diam-diam atau laporan yang dipalsukan. Ini adalah potret kecil tentang bagaimana kebohongan sering lahir dari perpaduan antara tekanan ekonomi dan keyakinan berlebihan bahwa orang lain tidak akan memeriksa fakta.

Padahal fakta memiliki kebiasaan buruk yang sangat menyebalkan bagi para pembohong.

Ia selalu muncul di akhir cerita.

Dan ketika itu terjadi, begal yang tadinya dituduhkan ke jalanan justru ditemukan bercermin di rumah sendiri.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *