Wagub Jihan Dorong Modernisasi Pertanian untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

CAHYAMEDIA (METRO) — Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan pentingnya penerapan teknologi dan modernisasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani di daerah.

Hal tersebut disampaikan Jihan saat menghadiri Gerakan Tanam Padi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) serentak di seluruh Indonesia, di Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat, Rabu (30/9/2026).

Jihan mengatakan sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama perekonomian Provinsi Lampung. Dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung yang mencapai lebih dari Rp500 triliun, hampir 28 persen di antaranya ditopang sektor pertanian.

Selain itu, sektor pertanian, perikanan, dan hortikultura juga menyerap sekitar 44 persen tenaga kerja di Lampung.

“44 persen masyarakat kita yang bekerja di bidang pertanian, perikanan, dan hortikultura. Maka kalau ini jadi fokus perhatian kita di Provinsi Lampung, fokus kesejahteraannya, fokus produktivitas pertaniannya, maka insya Allah Lampung akan semakin maju dan juga semakin sejahtera pula,” ungkap Jihan.

Menurutnya, penerapan PM-AAS tidak boleh hanya dimaknai sebagai penggunaan mesin atau teknologi baru di lahan pertanian. Lebih dari itu, modernisasi harus mampu menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, serta memperbesar margin keuntungan yang diterima petani.

“Pentingnya Pertanian Modern Advanced Agriculture System atau PM-AAS ini menjadi salah satu instrumen modernisasi pertanian yang tidak boleh dimaknai sekadar menghadirkan mesin atau teknologi baru ke sawah, tetapi lebih dari itu bagaimana efisiensi cost pertanian, produktivitasnya meningkat, dan tentu ada margin yang lebih besar lagi untuk dapat diuntungkan oleh petani para petani kita,” jelasnya.

Jihan juga memaparkan hasil percontohan penerapan PM-AAS di Kabupaten Lampung Tengah seluas 100 hektare yang dikelola 77 petani. Program tersebut mampu menghasilkan panen hingga 11,2 ton per hektare.

Sementara secara agregat, produksi padi Lampung pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 3,2 juta ton. Capaian tersebut menempatkan Lampung sebagai salah satu daerah surplus beras secara nasional.

Untuk menjaga stabilitas ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, Pemerintah Provinsi Lampung terus menjalankan berbagai program intervensi. Di antaranya pemberian pupuk hayati cair untuk menjaga kesuburan tanah, penyediaan mesin pengering gabah atau bed dryer, serta penguatan peran BUMDes dan koperasi desa dalam memangkas rantai tata niaga hasil panen.

“Dengan ekosistem seperti ini tentu saja petani memiliki lebih banyak pilihan ke depannya dalam mengelola hasil pertanian. Saya berharap bantuan dan kegiatan hari ini menjadi bagian dari proses peningkatan produktivitas kesejahteraan petani, khususnya di Kota Metro dan seluruh Provinsi Lampung,” terangnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi Tin Latifah mengatakan akselerasi swasembada pangan yang telah dicapai harus terus dijaga dan ditingkatkan secara konsisten.

“Bapak Presiden kan maunya kita swasembada pangan. Waktu itu swasembada pangannya 4 tahun, ternyata dipersingkat menjadi 3 tahun, terus dipersingkat lagi menjadi 1 tahun. Alhamdulillah itu tercapai,” terang Tin.

Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemerintah daerah di lapangan. Namun, memasuki 2026, tantangan perubahan dan kondisi iklim ekstrem membutuhkan inovasi agar produktivitas padi tidak stagnan.

“Produktivitas padi kita dari tahun 2010 itu stagnan di angka 5 ya, 5 ton, 5,1, 5,2, terakhir 5,3. Kita harus punya lompatan teknologi, kita harus berpikir di luar yang kebiasaannya,” jelasnya.

Tin mengatakan penerapan PM-AAS di sejumlah provinsi menunjukkan hasil produktivitas di atas 10 ton per hektare. Di Lampung Tengah, hasil panen dari program tersebut tercatat mencapai 10 hingga 12 ton per hektare, dengan rata-rata sekitar 11 ton per hektare.

“Jadi ini bukan angan-angan, ini sudah terealisasi,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO), produksi beras Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai 38,6 juta ton dan masuk dalam jajaran empat besar dunia.

Untuk mendorong peningkatan produktivitas, PM-AAS ditargetkan diterapkan pada lahan seluas 1 juta hektare secara nasional pada 2026 dan 3 juta hektare pada 2027.

Khusus di Lampung, program PM-AAS dialokasikan pada lahan seluas 35.100 hektare. Untuk pertanaman September, target awal ditetapkan 2.500 hektare dan terus dikejar hingga akhir tahun.

Tin juga menyebut kondisi cadangan beras nasional saat ini dalam keadaan aman.

“Selama 10 bulan ke depan insya Allah stok beras masih aman. Ketika stok kita aman, Indonesia tidak melakukan impor beras dan dampaknya harga beras nasional langsung turun,” paparnya.

Ia mengatakan percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) pada September menjadi momentum penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Padi yang ditanam pada akhir musim tanam tersebut diproyeksikan memasuki masa panen pada Desember hingga Januari.

Dengan demikian, produksi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan beras dalam negeri secara mandiri tanpa mengandalkan impor pada 2027.

Untuk memastikan pelaksanaan PM-AAS berjalan optimal, Kementerian Pertanian bersama Pemprov Lampung juga melakukan pengawalan terhadap sejumlah kebutuhan pendukung. Di antaranya ketersediaan air irigasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), keandalan pasokan listrik melalui PLN, serta kelancaran distribusi pupuk bersubsidi bersama PT Pupuk Indonesia agar tidak terjadi keterlambatan di tingkat petani. (Mln/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *