Ketika Tinta Emosi Menyentuh Kerudung Seorang Polwan

Nasional11 Dilihat

OPINI

Oleh: Majid Lintang *)

DI TENGAH ‎riuhnya gelombang demonstrasi yang sering menyelimuti jalanan kota, sebuah peristiwa kecil tiba-tiba menjelma besar. Bukan karena kerusakan yang ditimbulkan, melainkan karena simbol yang disentuh: sebuah kerudung milik polisi wanita.

‎Seorang mahasiswi dari Universitas Indonesia mendadak menjadi sorotan publik setelah aksinya mencoret kerudung seorang polwan terekam kamera dan menyebar cepat di media sosial. Coretan itu—yang bagi sebagian orang mungkin sekadar ekspresi spontan dalam hiruk pikuk demonstrasi—justru memantik perdebatan panjang tentang batas antara kebebasan menyampaikan aspirasi dan etika dalam bertindak.

‎Di dunia digital yang bergerak cepat, potongan video sering kali lebih lantang daripada penjelasan panjang. Dalam hitungan jam, wajah sang mahasiswi dan perbuatannya menjadi bahan perbincangan ribuan warganet. Ada yang mengecam, menilai tindakan itu tidak pantas dan mencederai martabat seseorang yang sedang bertugas. Ada pula yang mencoba melihatnya sebagai bagian dari emosi yang meluap dalam suasana demonstrasi.

‎Namun di balik segala riuh itu, akhirnya muncul sebuah pengakuan.

‎Dalam pernyataan terbukanya, mahasiswi tersebut menyampaikan permintaan maaf. Ia mengakui tindakannya keliru. Tidak ada pembelaan panjang, tidak pula alasan yang berkelok-kelok—hanya pengakuan sederhana bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan.

‎Penyesalan, seperti embun pagi, sering datang setelah malam yang panjang. Ia mengatakan bahwa peristiwa itu menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya menyampaikan aspirasi tanpa melukai martabat orang lain.

‎Permintaan maaf itu mungkin tidak serta-merta menghapus perdebatan yang sudah terlanjur bergulir. Namun setidaknya, ia menjadi penanda bahwa kesadaran masih menemukan jalannya.

‎Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa demonstrasi, dalam tradisi demokrasi, adalah ruang menyuarakan gagasan—bukan ruang merendahkan sesama. Di jalanan, emosi bisa mudah tersulut, tetapi adab sering kali menjadi pagar terakhir yang menjaga kemanusiaan tetap berdiri.

‎Di akhir cerita ini, yang tersisa bukan lagi coretan tinta di selembar kerudung, melainkan sebuah pelajaran sunyi: bahwa keberanian menyuarakan pendapat harus selalu berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan untuk menghormati orang lain.***

*) Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed