Rumah yang Melahirkan Provinsi, Lalu Nyaris Dilupakan

Lampung, Nasional23 Dilihat

KENANG SEJARAH

Oleh: Majid Lintang *)

Di Jalan Tulang Bawang, Bandar Lampung, berdiri sebuah rumah tua yang tak banyak menarik perhatian. Orang-orang melintas setiap hari. Sepeda motor meraung. Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Pedagang membuka lapak. Anak-anak sekolah berangkat pagi.
Tak banyak yang sadar, di salah satu sudut jalan itu berdiri sebuah bangunan yang pernah menjadi ruang lahir sebuah provinsi.
Namanya Rumah Daswati.
Dari luar, ia tidak tampak seperti monumen. Tidak menjulang megah. Tidak pula memiliki pagar besar yang membuat orang spontan berhenti untuk berfoto. Rumah itu lebih mirip seorang kakek tua yang duduk diam di teras, menyimpan begitu banyak cerita tetapi jarang diajak berbincang.
Padahal, enam dekade lalu, rumah itu menjadi tempat berkumpulnya para tokoh yang memperjuangkan lahirnya Provinsi Lampung.

Awal dekade 1960-an bukan masa yang mudah bagi Lampung. Wilayah yang kini dikenal sebagai gerbang Pulau Sumatera itu masih menjadi bagian dari Sumatera Selatan.
Jarak pemerintahan terasa jauh. Aspirasi masyarakat sering kali harus menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke meja pengambil keputusan. Di tengah situasi itulah muncul gagasan agar Lampung berdiri sebagai provinsi sendiri.
Gagasan besar itu tidak lahir di gedung parlemen yang mewah.
Ia lahir di sebuah rumah.
Pada 7 Maret 1963, sejumlah tokoh berkumpul di rumah milik Kolonel Achmad Ibrahim. Mereka membahas strategi, menyusun langkah, dan merumuskan perjuangan politik untuk membentuk Daerah Swatantra Tingkat I Lampung.
Dari istilah “Daerah Swatantra Tingkat I” itulah kemudian muncul nama yang kini melekat pada bangunan tersebut: Daswati.
Tidak ada kamera televisi yang menyorot. Tidak ada siaran langsung. Tidak ada unggahan media sosial.
Yang ada hanya tekad dan keyakinan bahwa sebuah daerah berhak menentukan masa depannya sendiri.
Setahun kemudian perjuangan itu membuahkan hasil. Pada 18 Maret 1964, Lampung resmi berdiri sebagai provinsi.
Sejarah mencatat tanggalnya.
Tetapi sejarah hampir lupa menjaga rumah tempat kisah itu dimulai.

Seperti banyak bangunan bersejarah di Indonesia, Rumah Daswati pernah mengalami nasib yang akrab: terlupakan.
Tahun berganti tahun. Generasi berganti generasi. Orang-orang yang dahulu memperjuangkannya satu per satu meninggalkan dunia.
Sementara rumah itu tetap berdiri.
Catnya memudar. Beberapa bagian bangunan menua. Rumput liar tumbuh. Debu dan waktu perlahan mengambil alih ruang yang dulu dipenuhi percakapan tentang masa depan Lampung.
Ironis memang.
Sebuah rumah yang membantu melahirkan provinsi justru nyaris kehilangan tempat dalam ingatan provinsi yang dilahirkannya.
Kadang sejarah memang seperti orang tua di kampung. Ketika masih kuat, semua orang meminta bantuan. Ketika mulai renta, tak banyak yang datang berkunjung.

Beruntung, dalam beberapa tahun terakhir perhatian terhadap Rumah Daswati mulai tumbuh kembali.
Sejarawan, pegiat budaya, akademisi, dan sejumlah tokoh masyarakat mulai mengingatkan pentingnya menyelamatkan bangunan tersebut.
Bukan semata-mata karena usia bangunannya.
Tetapi karena nilai yang tersimpan di dalamnya.
Rumah Daswati bukan sekadar kumpulan tembok, kusen, dan genteng tua. Ia adalah arsip yang dibangun dari batu bata. Sebuah dokumen sejarah yang ditulis dalam bentuk ruang.
Setiap sudutnya menyimpan jejak perdebatan, harapan, dan keberanian generasi terdahulu.
Pada 2026, rumah itu akhirnya ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Bandar Lampung. Sebuah langkah penting setelah bertahun-tahun berada di ambang pelupaan.
Status itu bukan akhir perjalanan.
Justru menjadi pengingat bahwa pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.

Di banyak negara, rumah-rumah bersejarah diubah menjadi museum, pusat dokumentasi, atau ruang belajar publik. Anak-anak sekolah datang berkunjung. Mahasiswa melakukan penelitian. Wisatawan belajar memahami sejarah daerah yang mereka datangi.
Rumah Daswati memiliki potensi yang sama.
Bayangkan suatu hari seorang pelajar berdiri di ruang tamunya sambil mendengarkan cerita bagaimana para pendiri Lampung pernah duduk di tempat yang sama, membicarakan masa depan yang saat itu belum pasti.
Bayangkan anak-anak muda menyadari bahwa provinsi yang mereka tempati hari ini bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil perjuangan panjang orang-orang yang berani bermimpi.
Sejarah akan terasa lebih hidup ketika bisa disentuh.
Lebih bermakna ketika bisa dikunjungi.

Rumah Daswati masih berdiri di Jalan Tulang Bawang.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus bergerak ke depan, bangunan tua itu seperti penjaga waktu yang setia.
Ia tidak berteriak meminta perhatian.
Ia tidak memaksa orang mengingat.
Ia hanya berdiri diam, menunggu generasi berikutnya datang dan bertanya:
“Benarkah sebuah provinsi pernah lahir dari rumah sederhana ini?”
Dan sejarah akan menjawab dengan tenang:
“Ya. Semua yang besar selalu bermula dari tempat yang tampak biasa.” ***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *