Sampo, Jendela, dan Kebohongan yang Hampir Sempurna

Hukrim, Nasional22 Dilihat

OPINI

Oleh: Majid Lintang *)

Kadang-kadang sebuah kebohongan terlihat begitu meyakinkan karena dibangun dari benda-benda yang sangat biasa.

Sebuah botol sampo.

Pintu yang terkunci dari dalam.
Mulut yang berbusa.

Dan sebuah kamar mandi sempit di rumah kos sederhana.

Rabu siang, 6 Maret 2019, semua itu tampak seperti potongan-potongan yang membentuk satu kesimpulan sederhana: seorang perempuan muda mengakhiri hidupnya sendiri.

Namun, seperti banyak kisah kriminal lainnya, kenyataan ternyata tidak sesederhana yang terlihat di permukaan.

Hari itu seharusnya berjalan biasa di sebuah rumah kos di Kelurahan Manembo-nembo Tengah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung.

Seorang anak sekolah dasar pulang dari sekolah dan mendapati pintu kamar terkunci rapat dari dalam. Tidak ada jawaban ketika ia mengetuk. Tidak ada suara. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Karena khawatir, ia memanjat masuk melalui jendela.

Apa yang dilihatnya di dalam kamar akan menjadi kenangan yang sulit dihapus sepanjang hidup.

Ibunya, Ferolin Sister Djorebe, 35 tahun, ditemukan tak bernyawa di kamar mandi.

Di sekitar tubuh korban terdapat cairan pembersih. Mulutnya berbusa. Gambaran itu begitu kuat sehingga dugaan yang segera beredar adalah bunuh diri.

Kasus seakan selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Namun keluarga Ferolin tidak percaya.

Mereka mengenal perempuan itu jauh lebih baik dibandingkan siapa pun yang datang belakangan ke lokasi kejadian.

Ferolin dikenal sebagai pekerja keras di sebuah perusahaan pengolahan ikan di Bitung. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia sedang berada di titik putus asa.

Justru di tengah suasana duka, muncul berbagai pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.

Pertanyaan pertama datang dari sang ayah, Jusak Djorebe.

Mengapa suami korban begitu berkeras agar autopsi tidak dilakukan?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun dalam banyak kasus kriminal, justru pertanyaan sederhana sering menjadi pintu masuk menuju kebenaran.

Lalu muncul kejanggalan-kejanggalan lain.

Posisi tubuh korban dianggap tidak lazim. Botol sampo yang diduga digunakan justru ditemukan dalam keadaan tertutup. Beberapa warga bahkan mengaku sempat mendengar percekcokan dari kamar kos tersebut sebelum korban ditemukan meninggal.

Satu kejanggalan mungkin bisa dianggap kebetulan.

Dua kejanggalan mungkin masih bisa dimaklumi.

Tetapi ketika jumlahnya terus bertambah, kecurigaan mulai berubah menjadi keyakinan.

Keluarga Ferolin menolak menerima kesimpulan yang dianggap terlalu cepat. Mereka memilih jalan yang jauh lebih berat: meminta makam dibongkar demi menemukan jawaban.

Sabtu, 30 Maret 2019.

Di pemakaman umum Kelurahan Lirang, Kecamatan Lembeh Utara, suasana pagi terasa berbeda. Di bawah pengamanan aparat kepolisian, makam Ferolin dibuka kembali.

Apa yang terkubur bersama jasad perempuan itu bukan hanya tubuh yang telah dimakamkan selama hampir sebulan.

Di sana juga terkubur dugaan, spekulasi, dan narasi yang selama ini dipercaya banyak orang.

Tim dokter forensik dari RSUP Prof. Kandou bersama penyidik mulai bekerja.

Hasilnya mengubah seluruh arah penyelidikan.

Ferolin tidak meninggal karena menelan sampo.

Ferolin adalah korban pembunuhan.

Kalimat itu seketika meruntuhkan cerita yang selama hampir sebulan dianggap sebagai kebenaran.

Kini polisi memiliki arah baru.

Penyelidikan berkembang cepat. Keterangan para saksi dipadukan dengan hasil autopsi dan alat bukti lainnya. Semua jejak perlahan mengarah pada satu nama yang sejak awal berada paling dekat dengan korban.

Suaminya sendiri.

Marlon.

Pada 1 April 2019, Tim Tarsius Matuari menangkap pria itu di tempat kerjanya. Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi di balik cerita yang telah ia bangun.

Kebohongan yang selama berminggu-minggu berdiri mulai runtuh satu per satu.

Rekonstruksi yang digelar pada 11 April 2019 kemudian membuka tabir kejadian yang sebenarnya.

Pagi hari sebelum tragedi terjadi, Ferolin baru kembali ke kos bersama anaknya setelah menginap di rumah seorang rekan.

Marlon mempertanyakan mengapa istrinya tidak pulang semalam.

Pertanyaan itu berkembang menjadi pertengkaran.

Nada suara meninggi.

Emosi menguasai keadaan.

Dan dalam hitungan menit, sebuah konflik rumah tangga berubah menjadi tragedi.

Menurut hasil rekonstruksi, Marlon mencekik istrinya hingga lemas dan tak berdaya.

Ketika menyadari apa yang telah terjadi, ia tidak meminta pertolongan.

Ia tidak memanggil tetangga.
Ia tidak membawa korban ke rumah sakit.

Yang dilakukan justru sebaliknya.
Ia mulai menyusun panggung.

Tubuh Ferolin diseret ke kamar mandi. Korban didudukkan. Cairan sampo dituangkan secara paksa ke dalam mulutnya hingga menimbulkan busa.

Sebuah adegan palsu dibangun dengan teliti.

Sebuah cerita palsu dirancang agar tampak masuk akal.

Lalu Marlon keluar melalui jendela. Pintu kamar sengaja dibiarkan terkunci dari dalam sehingga seolah-olah tidak ada orang lain di lokasi saat kejadian.

Sekilas, rencana itu tampak sempurna.

Tetapi seperti banyak kejahatan lainnya, selalu ada satu masalah besar yang sulit dikendalikan pelaku.

Kebenaran.

Ia mungkin bisa ditunda.
Ia mungkin bisa dikaburkan.
Ia bahkan bisa dikubur bersama jenazah korbannya.

Tetapi kebenaran memiliki kebiasaan aneh: selalu menemukan jalan untuk keluar.

Dan dalam kasus Ferolin Sister Djorebe, jalan itu dimulai dari seorang ayah yang tidak percaya, sebuah makam yang dibongkar, dan sederet kejanggalan yang menolak untuk diam.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *