Bambu Kuning, Ketika Pasar Menjadi Panggung Kehidupan Kota

Lampung, Nasional53 Dilihat

Oleh: Majid Lintang *)

Ada masa ketika orang datang ke Pasar Bambu Kuning bukan hanya untuk membeli sesuatu. Mereka datang untuk bertemu seseorang, membaca buku, menonton film, mencicipi kue, atau sekadar membiarkan sore berlalu di tengah keramaian Tanjungkarang.

Periode ini antara tahun 1970-1990

Pasar itu adalah sebuah kota kecil di dalam kota.

Di lantai dasar, denyut ekonomi berdegup sejak matahari belum tinggi. Di sisi-sisi lorong, para pedagang tekstil membentangkan gulungan kain berwarna-warni: katun, poplin, drill, sifon, hingga kain batik dari berbagai daerah. Cahaya lampu memantul pada tumpukan kain yang disusun menjulang, seolah menjadi pelangi yang bisa ditawar harganya.

Tak jauh dari sana, deretan toko pakaian jadi memajang kemeja, celana, rok, hingga seragam sekolah. Menjelang tahun ajaran baru atau Lebaran, lorong-lorong itu nyaris tak bisa dilewati. Orang-orang berdesakan, memilih baju terbaik sesuai kemampuan kantong masing-masing. Pedagang memanggil calon pembeli dengan suara lantang, sementara tawar-menawar menjadi musik yang tak pernah berhenti.

Namun, jika melangkah ke lorong belakang lantai dasar, suasananya berubah.

Aroma kain baru berganti harum kelapa parut, gula merah, dan daun pandan.

Di sanalah para penjual kue-kue tradisional membuka lapaknya. Lemper, nagasari, lapis beras, wajik, bugis, putu ayu, cucur, onde-onde, hingga aneka jajanan pasar tersusun rapi di dalam tampah dan etalase kaca. Para ibu rumah tangga, pegawai kantor, hingga pelajar singgah membeli bekal atau sekadar menikmati secangkir kopi bersama kudapan hangat.

Lorong itu menjadi ruang kecil yang menyimpan rasa kampung di tengah hiruk-pikuk kota.

Lalu, naiklah ke lantai atas.

Di sanalah wajah Bambu Kuning berubah sama sekali.

Pada dekade 1980-an, lantai atas bukan sekadar bagian dari pasar. Ia menjelma menjadi ruang budaya anak-anak muda Tanjungkarang.

Di salah satu sudut berdiri taman bacaan, tempat remaja menyewa dan membaca novel-novel populer, komik Jepang, cerita silat Kho Ping Hoo, serial Lima Sekawan, hingga majalah Hai, Aktuil, Vista, Selecta, atau Bobo. Rak-raknya mungkin sederhana, tetapi bagi banyak pelajar, tempat itu adalah jendela menuju dunia yang jauh lebih luas daripada kota mereka.

Anak-anak sekolah sering datang selepas jam pelajaran. Ada yang benar-benar membaca. Ada pula yang hanya mencari alasan untuk bertemu teman sekelas atau diam-diam mencuri pandang kepada gadis yang duduk beberapa meja di seberang.

Di sana, membaca menjadi bagian dari pergaulan.

Beberapa langkah dari taman bacaan, lampu-lampu bioskop mulai menyala ketika sore menjelang malam.

Poster film-film Indonesia, Hong Kong, India, hingga Hollywood memenuhi dinding. Nama-nama seperti Rhoma Irama, Barry Prima, Suzanna, Jackie Chan, Bruce Lee, Amitabh Bachchan, Sylvester Stallone, dan Chuck Norris menjadi magnet yang membuat antrean mengular hingga ke lorong pasar.

Bagi remaja tahun 1980-an, menonton film di Bambu Kuning bukan sekadar hiburan. Itu adalah peristiwa sosial.

Mereka berdandan paling rapi. Rambut disisir dengan minyak atau gel, sepatu dibersihkan hingga mengilap. Sebagian sengaja datang berkelompok agar terlihat percaya diri. Sebagian lagi berharap bisa duduk bersebelahan dengan seseorang yang diam-diam disukai.

Sesudah film usai, mereka tidak langsung pulang.

Mereka berkumpul di tangga, di pelataran, atau di warung sekitar pasar. Film yang baru ditonton diperdebatkan dengan semangat. Siapa jagoan paling hebat, adegan paling seru, atau lagu tema yang paling menyentuh. Tawa mereka bercampur dengan aroma sate, es sirup, dan kopi yang mengepul dari warung-warung kaki lima.

Bambu Kuning, pada masa itu, adalah tempat di mana persahabatan tumbuh, cinta pertama bersemi, dan mimpi-mimpi anak muda menemukan ruangnya.

Hari ini, sebagian wajah itu telah berubah. Bioskop telah lama padam. Taman bacaan menghilang, digantikan layar-layar telepon genggam. Lorong-lorong pasar pun tak lagi seramai dahulu.

Namun bagi mereka yang pernah menjadi remaja di Bandar Lampung pada dekade 1980-an, Bambu Kuning bukan sekadar pasar.

Ia adalah album kenangan.

Sebuah tempat yang mengajarkan bahwa sebuah pasar bisa menjadi lebih dari sekadar ruang jual beli. Ia bisa menjadi perpustakaan kecil, gedung bioskop, ruang perjumpaan, bahkan panggung tempat satu generasi menulis babak awal kehidupan mereka. ***

*) Wartawan Senior Tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *