Bulan Puasa, Melatih Diri untuk Menjadi Pribadi Berbudi Pekerti Luhur

Nasional14 Dilihat

OPINI

Oleh: WARAS MULYONO *)

Di tengah hebohnya aktivitas sehari-hari dan tantangan kehidupan modern, bulan Ramadhan datang sebagai momen yang dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Bojonegoro ini dan berbagai wilayah di Indonesia.

Puasa yang dilakukan selama sebulan penuh bukan hanya tentang menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan sebuah proses mendalam untuk merestart diri dan membentuk pribadi yang memiliki budi pekerti luhur.

Asalkan pelaksanaannya dilakukan dengan kesungguhan dan sesuai dengan ajaran agama.

Dibalik itu juga puasa bukan sekadar ibadah fisik semata. Secara substansial, ibadah ini mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, merasakan kesulitan orang yang kurang beruntung, dan mempererat hubungan dengan Sang Pencipta.

Ketika seseorang berpuasa dengan benar, ia tidak hanya menjaga larangan makan dan minum, tetapi juga menghindari ucapan yang tidak baik, perilaku yang menyakitkan hati, dan pikiran yang negatif.

Hal ini membuat puasa menjadi alat yang efektif untuk membersihkan diri dari segala bentuk kekotoran baik dalam tindakan, perkataan, maupun pemikiran.

Bulan Ramadhan juga memberikan kesempatan emas untuk melakukan evaluasi diri secara menyeluruh. Banyak orang yang memanfaatkan momen ini untuk meninggalkan kebiasaan buruk, seperti kecanduan gadget yang tidak produktif, pola makan yang tidak sehat, atau sikap yang kurang baik terhadap orang lain.

Dengan menjalankan ibadah puasa dengan benar, diimbangi dengan membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melakukan amalan baik lainnya dan setiap individu dapat meretas ulang pola hidupnya menjadi lebih baik dan bermakna.

Untuk kunci utama dari puasa yang mampu membentuk budi pekerti luhur terletak pada kesadaran dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Saat kita mampu menahan lapar dan haus, kita juga belajar untuk menahan emosi yang tidak diinginkan, seperti marah atau iri hati. Selain itu, rasa empati yang tumbuh ketika merasakan kelaparan membuat kita lebih peduli terhadap sesama, terutama mereka yang berada dalam kesusahan.

Hal ini secara perlahan membentuk karakter yang penuh kasih, sabar, jujur, dan bertanggung jawab serta sifat-sifat yang menjadi pondasi budi pekerti luhur.

Nah! dengan demikian, puasa Ramadhan bukan hanya ibadah yang harus ditaati, melainkan kesempatan berharga untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Keberhasilan dalam meraih tujuan ini sangat tergantung pada bagaimana kita menjalankannya dengan benar dan penuh kesadaran.
Bojonegoro, 22 Februari 2026. ***

*) GOK RAS SEKJEN AWPI DPC BOJONEGORO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *