Dentuman di Lantai Dansa

Nasional83 Dilihat

OPINI

(Ketika Emosi, Senjata, dan Dunia Malam Bertabrakan di Palembang)

Oleh: Majid Lintang *)

Musik masih berdentum ketika tubuh itu roboh.

Lampu biru-merah di dalam kafe terus berkedip seperti tak peduli ada seseorang yang baru saja tertembak. Di sudut ruangan, sebagian pengunjung membeku. Sebagian lain panik berhamburan. Aroma alkohol, asap rokok, dan teriakan bercampur menjadi satu. Sabtu dini hari di Palembang itu mendadak berubah dari pesta menjadi lokasi kematian.

Korban adalah Pratu Ferischal Alfarizky Abelsa, 23 tahun, anggota TNI AD yang malam itu datang bersama rekan-rekannya ke Panhead Cafe, sebuah tempat hiburan di kawasan Ilir Barat I, Palembang. Ia tak pulang hidup-hidup.

Peluru menembus tubuhnya.
Yang melepaskan tembakan bukan begal jalanan. Bukan perampok bersenjata. Melainkan sesama prajurit.

Menurut keterangan aparat, insiden bermula dari sesuatu yang terdengar nyaris sepele: senggolan saat berjoget. Dua lelaki muda, sama-sama berdarah panas, sama-sama berseragam loreng, sama-sama berada dalam atmosfer malam yang penuh ego dan adrenalin.

Dari senggolan kecil, lahirlah cekcok. Dari cekcok, berubah menjadi pengeroyokan. Lalu sebuah senjata api rakitan keluar dari pinggang.

Dan satu letusan mengakhiri semuanya.

Di kota-kota besar Indonesia, tempat hiburan malam sering menjadi semacam ruang pelarian. Orang datang untuk melupakan tekanan hidup, mencari teman, atau sekadar membunuh sepi. Tetapi ruang semacam itu juga kerap menjadi panggung rapuh bagi ego laki-laki.

Sedikit tatapan salah bisa memicu keributan. Sedikit senggolan dapat berubah menjadi duel harga diri.

Di banyak kasus kekerasan, persoalannya bukan semata “apa yang terjadi”, melainkan bagaimana seseorang merasa dipermalukan di depan orang lain.
Apalagi jika identitas maskulinitas ikut bermain.

Dalam kultur tertentu, terutama lingkungan yang sangat menjunjung kehormatan dan wibawa, rasa tersinggung sering dianggap ancaman terhadap harga diri. Maka respons menjadi berlebihan. Amarah tidak lagi dikendalikan akal sehat, melainkan dorongan mempertahankan ego.

Malam itu, tampaknya semua unsur berbahaya berkumpul dalam satu ruangan: emosi, alkohol, solidaritas kelompok, dan senjata.
Kombinasi yang sering melahirkan tragedi dalam hitungan detik.

Korban sebenarnya sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun sekitar satu jam kemudian, nyawanya tak tertolong. Hasil autopsi menunjukkan luka tembak di perut kanan bawah menembus organ vital hingga menyebabkan pendarahan hebat.

Sementara itu, aparat Denpom bergerak cepat.

Kurang dari 24 jam, terduga pelaku Sertu MRR berhasil diamankan. Polisi militer juga memeriksa puluhan saksi, mengamankan CCTV, hingga menemukan senjata api rakitan yang disebut disembunyikan oleh seorang warga berinisial DS.

Fakta tentang senjata rakitan justru menghadirkan pertanyaan yang lebih mengganggu.

Bagaimana senjata semacam itu bisa berada di tengah pergaulan prajurit muda? Mengapa ia dibawa ke tempat hiburan malam? Dan seberapa longgar pengawasan terhadap kepemilikan senjata ilegal di luar kepentingan dinas?

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar kronologi senggolan di lantai dansa.

Sebab peluru tidak pernah meledak sendirian. Selalu ada rantai kelalaian panjang sebelum akhirnya ia ditembakkan.

Di media sosial, respons publik cepat terbelah. Ada yang menyebut kejadian itu murni ledakan emosi sesaat. Ada pula yang menilai ini cermin problem kedisiplinan aparat muda yang makin rentan terseret gaya hidup malam.

Namun tragedi ini sebenarnya memotret sesuatu yang lebih luas: betapa tipis jarak antara hiburan dan kehancuran ketika manusia kehilangan kendali diri.

Kita hidup di zaman ketika kemarahan tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menahan diri. Orang mudah tersinggung, mudah meledak, mudah merasa paling terhina. Sedikit gesekan berubah menjadi permusuhan permanen.

Padahal kedewasaan justru terlihat dari kemampuan meredam emosi ketika situasi sedang panas.

Tidak semua tantangan harus dijawab dengan kekerasan.

Tidak semua harga diri perlu dibela dengan peluru.

Sabtu sore, upacara pemakaman militer dilaksanakan di TPU Sematang Borang, Palembang. Langit mendung menggantung rendah. Rekan-rekan korban berdiri memberi penghormatan terakhir.

Dentuman salvo penghormatan terdengar lirih.

Ironisnya, hidup Pratu Ferischal juga berakhir oleh dentuman senjata.

Bedanya, yang satu untuk penghormatan.

Yang satu lagi lahir dari amarah sesaat di bawah lampu disko.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *