Pisau, Doa, dan Darah yang Harus Mengalir Sempurna

Nasional86 Dilihat

OPINI

(Menjelang Iduladha, Kutai Kartanegara Melatih Para Penjaga Kehalalan)

Oleh : Majid Lintang *)

Udara pagi di Tenggarong belum sepenuhnya panas ketika tiga puluh lelaki duduk berjajar di sebuah ruang pelatihan milik Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebagian mengenakan peci hitam. Sebagian lain membawa buku catatan tipis dan telepon genggam yang sesekali menyala oleh pesan WhatsApp keluarga.

Di hadapan mereka, bukan sekadar materi teknis tentang cara memegang pisau atau memotong urat leher hewan kurban. Yang dibicarakan adalah sesuatu yang, bagi sebagian besar umat Islam, jauh lebih dalam: halal sebagai jalan spiritual.

Menjelang Iduladha 2026, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melatih 30 juru sembelih halal—Julha, istilah resminya. Mereka dipersiapkan bukan hanya agar cekatan menyembelih kambing dan sapi, melainkan juga agar memiliki sertifikat halal. Negara, agama, dan urusan dapur bertemu dalam satu meja pelatihan.

“Kehalalan makanan bukan hanya persoalan teknis,” kata Asisten I Sekretaris Daerah Kukar, Akhmad Taufik Hidayat, di Tenggarong, Selasa lalu. “Ia menyangkut aspek spiritual, kesehatan, dan keberkahan hidup umat.”

Di Indonesia, terutama menjelang Iduladha, penyembelihan hewan kurban sering tampak seperti peristiwa sosial raksasa. Gang-gang sempit berubah menjadi arena pemotongan. Anak-anak menonton dari balik pagar. Takbir bertaut dengan bau tanah, rumput, dan darah yang hangat.

Tetapi di balik keramaian itu, ada kegelisahan yang makin sering muncul: apakah hewan disembelih sesuai syariat? Apakah prosesnya cukup manusiawi? Dan siapa yang memastikan semua itu?

Pelatihan Julha yang digelar Pemkab Kukar tampaknya hendak menjawab pertanyaan tersebut. Pemerintah daerah mulai melihat bahwa penyembelihan bukan lagi urusan tradisi kampung semata. Ia telah berubah menjadi wilayah yang memerlukan standar, sertifikasi, bahkan pengawasan moral.

Dalam fiqih Islam, penyembelihan bukan tindakan membunuh biasa.
Ia adalah ritual yang dibatasi aturan ketat. Nama Tuhan harus disebut. Pisau harus tajam. Penyembelih mesti berakal, balig, dan memahami tata cara syariat.

Di ruang pelatihan itu, para peserta diingatkan tentang Surah Al-An’am ayat 121: larangan memakan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.

Namun agama rupanya tidak berhenti pada doa.
Ada juga soal etika terhadap hewan.

Seekor kambing, misalnya, mesti direbahkan perlahan, biasanya menghadap kiblat. Untuk sapi, beberapa orang membantu memegang tubuh dan kaki agar hewan tidak memberontak. Pisau tidak boleh diasah di depan hewan. Penyembelihan harus cepat agar penderitaan diminimalkan.

Dalam tradisi Islam, gagasan itu dikenal dengan satu kata yang sederhana namun berat: ihsan.

Nabi Muhammad mengajarkan bahwa bahkan ketika manusia harus menyembelih hewan untuk dimakan, tindakan itu tetap wajib dilakukan dengan kepantasan dan belas kasih. Hewan tidak boleh disiksa. Tidak boleh dipermalukan. Bahkan rasa takutnya sebisa mungkin dikurangi.

Di banyak tempat, pesan itu kerap hilang di tengah hiruk-pikuk Iduladha.

Ada sapi yang diseret kasar di jalanan. Ada hewan yang menyaksikan hewan lain disembelih di depannya. Ada pisau tumpul yang membuat leher hewan berkali-kali disayat sebelum putus sempurna.

Yang tertinggal kemudian bukan hanya darah, melainkan juga pertanyaan moral: sejauh mana manusia menjaga martabat makhluk yang ia korbankan atas nama ibadah?

Karena itu, pelatihan Julha sesungguhnya tidak sekadar bicara sertifikat.

Ia adalah upaya mendisiplinkan tradisi.

Pemerintah Kukar menyebut sertifikasi ini sebagai “jaminan syar’i”. Frasa yang terdengar administratif, tetapi sesungguhnya menyimpan kecemasan modern: umat ingin kepastian bahwa daging yang mereka makan benar-benar halal dan tayib—baik, bersih, serta layak dikonsumsi.

Standar itu kini makin rinci. Penyembelih harus membaca basmalah dan takbir. Saluran tenggorokan, saluran makanan, dan pembuluh darah utama harus terpotong dalam satu gerakan tegas. Darah mesti mengalir sempurna sebelum proses pengulitan dimulai.

Di balik aturan tersebut, tersimpan pula logika kesehatan.
Pengeluaran darah secara optimal dipercaya membuat daging lebih higienis dan lebih baik untuk dikonsumsi. Syariat dan sanitasi bertemu dalam satu irisan tipis di leher seekor sapi.

Tetapi modernisasi penyembelihan halal juga membawa ironi tersendiri.

Di satu sisi, agama berusaha menjaga kesakralan kurban. Di sisi lain, sertifikasi dan birokrasi perlahan mengubahnya menjadi sistem administrasi yang terukur: ada pelatihan, standar kompetensi, dan dokumen resmi.
Ritual yang dahulu diwariskan dari mulut ke mulut kini masuk ruang kelas.

Di Tenggarong, pelatihan itu ditutup dengan tiga pesan kepada para peserta: memahami fiqih penyembelihan secara mendalam, menjaga integritas, dan membangun komunikasi dengan masyarakat.
Integritas mungkin menjadi kata paling penting.

Sebab pada akhirnya, juru sembelih halal bukan hanya orang yang memegang pisau. Ia memegang kepercayaan sosial. Di tangan mereka, ibadah kurban ditentukan bukan cuma sah atau tidak, tetapi juga bermartabat atau tidak.

Iduladha selalu berbicara tentang pengorbanan. Tetapi di sebuah ruang pelatihan di Kutai Kartanegara, pengorbanan itu tampak memiliki makna lain: upaya manusia belajar kembali bagaimana membunuh dengan belas kasih.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *