Seruit di Kota Minyak: Sepiring Lampung yang Menolak Dilupakan

Lampung, Nasional34 Dilihat

KULINER

Oleh: Majid Lintang *)

Di sebuah deretan ruko di Jalan Ruhui Rahayu, Balikpapan, aroma ikan bakar bercampur sambal terasi mengepul dari dapur yang tak pernah benar-benar sepi. Di tengah kota yang tumbuh dari minyak, pelabuhan, dan para perantau dari berbagai penjuru Nusantara, ada satu rumah makan yang diam-diam menjadi tempat pulang bagi lidah orang Lampung.

Namanya Raja Sambal Seruit.

Dari luar, tempat itu tampak seperti rumah makan biasa. Namun begitu sepiring seruit tersaji, yang hadir bukan sekadar makanan. Yang datang adalah kampung halaman.

Bagi banyak orang Lampung yang merantau ke Kalimantan Timur, seruit bukan hanya urusan makan siang atau makan malam. Ia adalah kenangan yang diulek bersama sambal. Ia adalah percakapan keluarga yang terselip dalam aroma ikan bakar. Ia adalah cara sebuah daerah mempertahankan identitasnya meski terpisah ratusan kilometer oleh laut dan pulau.

Di Raja Sambal Seruit, tradisi itu hidup kembali setiap hari.

Sepiring seruit tampak sederhana. Ikan bakar atau goreng disuwir, lalu dicampur dengan sambal terasi yang pedas menggigit. Setelah itu ditambahkan perasan jeruk limau yang memberi kesegaran khas. Bagi pencinta rasa autentik, tempoyak—fermentasi durian yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung—ikut dimasukkan ke dalam adonan sambal.

Di atas cobek, semua bahan itu diaduk hingga menyatu.
Proses itulah yang disebut “nyeruit”.

Dari kata tersebut lahirlah nama makanan yang kini menjadi ikon kuliner Lampung. Bukan kebetulan jika kata “seruit” berasal dari aktivitas mencampur dan menyantap makanan bersama-sama. Sebab sejak awal, makanan ini memang tidak pernah dirancang untuk dinikmati sendirian.

Seruit lahir dari budaya kebersamaan.

Masyarakat Lampung mengenalnya sebagai hidangan yang mengumpulkan orang-orang di satu lingkaran. Di atas tampah besar, ikan, sambal, lalapan, dan nasi diletakkan bersama. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Semua duduk sejajar, mengulurkan tangan ke hidangan yang sama, berbagi rasa dan cerita.

Mungkin karena itu seruit bertahan begitu lama.

Di tengah zaman yang membuat orang makan sambil menatap layar ponsel, seruit masih mengajarkan sesuatu yang sederhana: makanan terbaik sering kali bukan yang paling mahal, melainkan yang membuat orang mau duduk bersama.

Konon, di Tanah Lada, seruit selalu hadir dalam berbagai perayaan penting. Dari pesta pernikahan, acara adat, hingga kumpul keluarga besar. Hidangan ini menjadi simbol bahwa kebahagiaan tidak pernah dirayakan sendirian.

Tradisi tersebut rupanya ikut merantau.

Di Balikpapan, Raja Sambal Seruit menjadi salah satu titik temu para perantau Lampung yang rindu kampung halaman. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang mengajak rekan kerja mencicipi makanan khas daerahnya, ada pula yang sekadar ingin mendengar kembali logat Lampung di meja sebelah.

Mereka datang bukan hanya untuk makan.

Mereka datang untuk mengobati rindu.

Sebab ada rasa yang tak bisa ditemukan dalam buku resep. Rasa itu lahir dari kenangan. Dari masa kecil yang dihabiskan di rumah panggung. Dari aroma ikan bakar yang mengepul di halaman. Dari suara orang-orang yang bercakap sambil tertawa mengelilingi tampah besar.

Dan seperti semua kenangan yang baik, seruit selalu menemukan jalan pulang.

Kini, di tengah hiruk-pikuk Balikpapan yang terus bertumbuh, sepiring seruit tetap menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, mengikuti langkah para perantau.

Di sebuah rumah makan sederhana di Jalan Ruhui Rahayu, Lampung masih hidup.

Tidak lewat monumen.

Tidak lewat pidato.

Melainkan lewat sambal yang pedas, ikan yang harum, dan orang-orang yang masih percaya bahwa makan bersama adalah cara paling manusiawi untuk menjaga persaudaraan.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *